Pengamat Ekonomi Desak Penyesuaian Harga BBM Pertamax Ikuti Pasar
Sejumlah pengamat ekonomi mendesak pemerintah memanfaatkan momentum penurunan harga minyak mentah dunia untuk segera menyesuaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax demi menjaga daya beli masyarakat kelas menengah.
Langkah penurunan harga ini dinilai krusial mengingat pelebaran jarak harga yang terlalu jauh antara Pertamax dan Pertalite mulai memicu lonjakan antrean konsumen di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Ekonom Faisal menyatakan bahwa kebijakan penurunan harga komoditas energi tersebut akan memberikan dampak langsung pada stabilitas ekonomi domestik, khususnya bagi kelompok masyarakat yang tidak menerima subsidi negara.
"Penurunan harga Pertamax itu berpengaruh ke daya beli masyarakat kelas menengah. Jadi sudah semestinya diturunkan untuk mendongkrak daya beli dan harga minyak dunia juga sudah turun," papar Faisal seperti dilansir dari aceh.tribunnews.com.
Dukungan atas langkah penyesuaian ini juga dikemukakan oleh Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, yang melihat penurunan harga minyak global sebagai celah bagi pemerintah untuk mengevaluasi tarif BBM komersial secara proporsional.
"Penurunan harga minyak dunia membuka ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga Pertamax. Penyesuaian ini bukan mengembalikan ke harga lama, melainkan menurunkan secara wajar mengikuti perkembangan pasar. Seberapa besar angkanya, pemerintah dan Pertamina yang memegang perhitungannya," ujar Piter Abdullah, Policy and Program Director Prasasti.
Piter Abdullah menambahkan bahwa ketegasan pemerintah dalam memisahkan tata kelola komoditas energi bersubsidi dan komersial sangat dibutuhkan agar skema perlindungan sosial tetap berjalan efektif tanpa mengganggu dinamika pasar.
"Kewajiban pemerintah adalah menjaga BBM bersubsidi. BBM non-subsidi seharusnya dibiarkan mengikuti harga pasar. Dengan begitu masyarakat paham mana harga yang dijaga pemerintah dan mana yang mengikuti pasar," kata Piter Abdullah.
Lebih lanjut, ia memperingatkan risiko terjadinya pergeseran konsumsi secara masif dari produk non-subsidi ke produk subsidi jika selisih harga di pasar tidak segera dievaluasi.
"Antrean Pertalite yang memanjang menandakan sebagian konsumen sudah beralih. Kalau dibiarkan, kuota Pertalite yang terbatas bisa tidak mencukupi. Pasokan dan permintaan tidak lagi cocok. Risikonya bisa sampai kelangkaan," ujarnya.
Sementara itu, proyeksi positif mengenai tren harga minyak mentah global disampaikan oleh Ibrahim Assuaibi selaku pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas dari PT Traze Andalan Futures.
Ibrahim Assuaibi menilai penurunan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah berpotensi mendorong harga minyak dunia merosot hingga di bawah 70 dolar AS per barel pada awal Juli 2026.
“Saya masih optimis BBM non-subsidi awal bulan (Juli) akan turun. Minyak mentah kemungkinan besar akan di bawah 70 dolar AS per barel,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas dari PT Traze Andalan Futures.