Budaya Tip Amerika Serikat Bebani Penonton Piala Dunia 2026
Sistem pemberian tip di Amerika Serikat memicu keluhan dari sejumlah penonton asing yang menyaksikan turnamen Piala Dunia 2026 secara langsung pada Juni 2026. Para pendukung dari berbagai negara mengaku terkejut karena harus mengeluarkan biaya ekstra yang cukup besar saat membeli makanan atau sekadar minuman ringan selama berada di negara tuan rumah tersebut. Dilansir dari BBC, regulasi ketenagakerjaan di beberapa restoran dan bar Amerika Serikat mengizinkan perusahaan membayar karyawan sedikit di atas dua dollar AS atau sekitar Rp 35.700 per jam.
Kondisi upah yang rendah itu membuat para pekerja hospitality sangat bergantung pada tip pelanggan sebesar 20 persen dari total tagihan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pendukung tim nasional Inggris, Geoff Pryor, menuturkan pandangannya mengenai kebiasaan ekstra yang ditemuinya selama berpelesir mengikuti pertandingan tim dinasnya. "Mereka mencoba meminta tip tanpa melakukan apa-apa," kata Pryor.
Pryor menilai permintaan itu aneh karena muncul saat dirinya hanya membeli sebotol air minum, walau ia tetap memaklumi jika tip diberikan atas pelayanan yang baik di restoran. "Saya mengerti bahwa gaji mereka mungkin tidak sebesar di Inggris, tapi secara keseluruhan pelayanannya cukup baik, jadi kalau pelayanannya bagus, mereka pantas mendapat tip yang layak," tutur Pryor.
Keluhan serupa datang dari suporter asal Australia, Chris O’Flynn dan Robert McNamara, yang merasa alokasi finansial mereka terkuras setelah membeli tiket pertandingan Piala Dunia 2026 yang mahal. O’Flynn berpendapat bahwa pemenuhan kesejahteraan pekerja seharusnya menjadi domain penuh dari pihak penyedia lapangan kerja. "Seharusnya perusahaan, bukan pelanggan, yang bertanggung jawab memastikan bahwa karyawan Anda digaji dengan layak," ujar O’Flynn.
McNamara menambahkan bahwa pembengkakan biaya terjadi sangat cepat karena keharusan menambah uang tip tersebut berlaku pada setiap transaksi.
"Kamu membeli minuman dan harus menambahkan lima dollar. Sulit dipercaya," ucap McNamara. Kenaikan pengeluaran akibat tip juga dikeluhkan oleh pendukung tim nasional Jepang, Maiko Asahi, yang tidak mengenal budaya tersebut di negara asalnya. "Harga-harga tanpa tip saja sudah sangat mahal, apalagi kalau ditambah tip, jadi terlalu mahal," terang Asahi.
Beban finansial ini dipertegas oleh suporter Jepang lainnya, Akihiro, yang sedang berlibur bersama sang anak dan mendapati harga menu termurah di restoran mencapai sekitar 30 dollar AS atau berkisar Rp 536.000.
"Kamu akhirnya berpikir, 'Astaga, dengan uang segitu aku bisa pesan satu porsi lagi'," kata Akihiro. Berdasarkan catatan National Geographic, praktik pemberian tip di Amerika Serikat sejatinya telah mengakar selama lebih dari satu abad sejak dimulai sebagai simbol apresiasi kaum elite kaya.
Legalisasi sistem ini diperkuat melalui Undang-Undang Standar Ketenagakerjaan yang Adil tahun 1938, yang membolehkan pengusaha membayar staf perhotelan serendah 2,13 dollar AS per jam dengan asumsi akumulasi tip akan menutupi selisih hingga mencapai standar upah minimum federal sebesar 7,25 dollar AS.