IAEA Temukan Material Nuklir Sisa Reaksi Lama di Suriah

Share

Inspektur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menemukan beberapa ton material nuklir di Suriah pada lokasi yang baru saja dilaporkan oleh pemerintah Damaskus. Temuan tersebut mengemuka usai tim inspektorat mengunjungi dua lokasi berbeda, yakni di Deir Ezzor serta satu titik rahasia lainnya, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Rabu (19/8/2026). Pengungkapan material nuklir tersebut berawal dari laporan sukarela yang disampaikan oleh otoritas Suriah kepada IAEA bulan lalu.

Material nuklir tersebut merupakan peninggalan dari era kepemimpinan mantan Presiden Bashar al-Assad yang telah digulingkan. Kepala IAEA Rafael Grossi mengapresiasi langkah pemerintah Suriah yang dinilai berani dalam membuka keberadaan fasilitas rahasia tersebut kepada publik internasional.

"Kita berbicara tentang beberapa ton material nuklir yang bisa disalahgunakan," kata Rafael Grossi, Kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

Guna memastikan keamanan material tersebut, para ahli teknis dari IAEA dan Suriah bakal berkolaborasi mengamankan serta memasukkannya ke dalam sistem pengawasan secara ketat. "Material ini akan didata dan dimasukkan ke dalam sistem pengawasan internasional," kata Rafael Grossi, Kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

Isu keberadaan fasilitas nuklir di Suriah ini juga berkaitan erat dengan penutupan lokasi Deir Ezzor selama 18 tahun, yang sempat dihantam serangan udara rahasia Israel pada 2007 silam. "Kita mulai membuka lembaran baru, dan membuka lembaran baru bukan berarti melupakan masa lalu," kata Rafael Grossi, Kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

IAEA mengonfirmasi bahwa penggalian komprehensif sedang berlangsung di Deir Ezzor, lokasi yang sebelumnya dicurigai dibantu oleh Korea Utara dalam pembangunan reaktor nuklir. "Lokasi Deir Ezzor, tempat dilakukannya pekerjaan penggalian dan eksplorasi yang sangat komprehensif saat ini," kata Rafael Grossi, Kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani menegaskan penyerahan data ini dilakukan demi menegakkan transparansi serta pengawasan internasional atas peninggalan rezim lalu.

"Pada tanggal 17 Juli, kami mengirimkan surat resmi kepada badan tersebut, di mana kami secara sukarela menyatakan keberadaan material nuklir di sebuah lokasi yang tidak dideklarasikan, yang merupakan bagian dari warisan rezim sebelumnya," kata Asaad al-Shaibani, Menteri Luar Negeri Suriah.

Ia memaparkan bahwa berdasarkan hasil evaluasi teknis, material nuklir yang ditemukan dipastikan aman dan tidak membahayakan. "Akan tetap berada dalam penguasaan nasional Suriah dan tunduk pada sistem pengawasan badan tersebut," kata Asaad al-Shaibani, Menteri Luar Negeri Suriah. Direktur Akademik FMES Institute Pierre Razoux menganalisis originasi material tersebut dengan menyebut keberadaannya kemungkinan berkaitan dengan proyek Al-Kibar di Deir Ezzor yang terhenti akibat pengeboman.

"Kemungkinan besar… terkait dengan program nuklir Suriah, yang dihentikan pada tahun 2007 setelah serangan Israel terhadap situs Al-Kibar," kata Pierre Razoux, Direktur Akademik FMES Institute.

Ia menduga bahwa selain dari proyek domestik, fasilitas pengolahan atau penampungan tersebut menyimpan pasokan lama dari wilayah tetangga. "Situs 99" juga dilaporkan menjadi salah satu fokus pengawasan ketat Israel karena menyimpan sisa proyek Deir Ezzor, di mana sebelumnya tercapai kesepahaman antara Washington, IAEA, Israel, dan Suriah untuk mengamankan material nuklir tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: IAEA internasional nuklir Suriah
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author