Rupiah Melemah ke Rp17.981 per Dolar AS pada Awal Juli 2026
Nilai tukar rupiah di pasar offshore dibuka melemah mengawali perdagangan Juli. Berdasarkan data perdagangan pada Rabu (1/7/2026), mata uang Garuda merosot 0,02 persen ke posisi Rp17.960/US$, kemudian kembali menyusut 0,13 persen ke level Rp17.981/US$ tidak lama setelahnya. Dikutip dari Bloomberg Technoz, penurunan nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) ini melanjutkan tren negatif sejak awal pekan.
Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh pergerakan kuat indeks dolar AS yang bertahan di level 101,24 terhadap enam mata uang utama. Kondisi keperkasaan dolar AS tersebut turut menyeret mayoritas mata uang di Asia ke zona merah. Pada pukul 07:20 WIB, baht Thailand mencatat pelemahan paling tajam sebesar 0,23 persen, yang kemudian diikuti oleh won Korea Selatan, yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan offshore, sementara hanya ringgit Malaysia yang menguat terbatas.
Laju pelemahan rupiah di pasar luar negeri makin terbebani oleh publikasi data Purchasing Manufacturing Index (PMI) Juni 2026 yang jatuh ke area kontraksi di level 46,9. Angka ini menurun dibanding bulan sebelumnya yang sempat berada di posisi 50.
Kemerosotan indeks manufaktur ke titik terendah sejak Juni 2025 tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketahanan sektor riil serta proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik pada semester II-2026. Situasi ini sekaligus memperkuat sentimen bahwa pemulihan ekonomi Indonesia masih rapuh. Sebaliknya, indeks manufaktur Malaysia justru ekspansif di level 50,7 dari sebelumnya 49,9 pada Mei, sehingga mendorong ringgit memimpin penguatan di kawasan regional. Meski demikian, rupiah mendapatkan kompensasi modal asing dari pasar surat berharga negara (SBN) setelah pemerintah mengerek imbal hasil.
Investor asing tercatat telah membeli obligasi pemerintah RI dengan nilai mencapai US$2,1 miliar hingga 26 Juni. Hari ini, sentimen rupiah akan bergantung pada rilis data neraca dagang, ekspor, dan impor oleh pemerintah. Konsensus memperkirakan pertumbuhan ekspor melambat di angka 3,5 persen, sedangkan impor diproyeksi tetap tinggi pada level 18 persen. Pelaku pasar masih menanti data ketahanan sektor eksternal tersebut yang dijadwalkan rilis pada pukul 11:00 WIB.