Aktivitas Manufaktur Indonesia Juni 2026 Alami Kontraksi Terendah
Aktivitas manufaktur Indonesia mengalami kontraksi pada Juni 2026 akibat penurunan permintaan baru dari konsumen yang dipicu oleh lonjakan harga produk. Laporan dari S&P Global pada Rabu (1/7/2026) menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) periode Juni merosot ke angka 46,9 dari posisi Mei yang berada di level 50, dilansir dari Bloomberg Technoz. Skor PMI manufaktur di bawah level 50 ini mengindikasikan terjadinya kontraksi dan menjadi catatan terendah dalam setahun terakhir.
Selain penurunan daya beli akibat harga yang melambung tinggi, sektor industri juga menghadapi lonjakan biaya input tertinggi sejak September 2013 yang mendorong kenaikan harga produk dengan laju tercepat dalam hampir 13 tahun. "Permintaan baru (new orders) mengalami penurunan terdalam sejak April tahun lalu. Beban kerja yang menurun ikut menyebabkan penurunan pembelian bahan baku dan penciptaan lapangan kerja," ungkap keterangan tertulis S&P Global.
Penurunan pesanan baru ini terjadi untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir dengan ritme yang paling cepat dalam setahun. Siklus penurunan ini memengaruhi keputusan dunia usaha dalam mengelola kapasitas operasional mereka.
"As a respons, dunia usaha menurunkan jumlah tenaga kerja dan pembelian bahan baku. Inventori juga terdampak akibat lemahnya permintaan. "Tekanan harga masih terjadi, dunia usaha mengeluhkan kenaikan harga bahan baku. Inflasi di tingkat produsen mencapai titik tertinggi dalam hampir 13 tahun," jelas Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence.