Data Apple Bocor Setelah Hacker Retas Mitra Pabrikan Tata Electronics

Share

Dokumen rahasia, foto, dan video uji jatuh yang diduga milik iPhone 18 Pro menyebar luas di media sosial setelah serangan siber melanda mitra manufaktur Apple di India, Tata Electronics. Grup ransomware bernama World Leaks bertanggung jawab atas peretasan tersebut dengan merilis data curian sebesar 630 gigabita yang mencakup lebih dari 200.000 dokumen internal di situs dark web mereka. Data yang bocor tersebut dilaporkan memuat cetak biru papan sirkuit, komponen baterai, modul kamera, daftar pemasok rahasia, hingga video pengujian perangkat keras yang menyerupai lini iPhone mendatang.

Menanggapi situasi ini, platform X langsung memblokir penyebaran klip video uji jatuh tersebut serta membekukan akun tiruan yang menyebarkannya karena dinilai melanggar aturan platform.

Analis teknologi dari PP Foresight, Paolo Pescatore menilai bahwa kebocoran ini menjadi masalah besar karena mengungkap struktur rantai pasok sensitif yang selalu dirahasiakan oleh pihak Apple. "Sensitive lists of components and suppliers, and photos of Apple's upcoming iPhone 18 Pro models are part of files," kata Reuters pada Senin.

Pihak Apple mengkhawatirkan implikasi dari dokumen tidak resmi yang tersebar luas ini karena berkaitan langsung dengan model gawai yang bahkan belum diluncurkan ke pasar dunia. "Apple considers this detail sensitive and is concerned about the documents being shared on the dark web as they relate to unreleased models, according to the person familiar with the matter," lapor Reuters.

Insiden keamanan digital berskala besar ini diperkirakan dapat memengaruhi hubungan kerja sama strategis antara Apple dan Tata Electronics yang kini tengah digenjot untuk mengurangi ketergantungan manufaktur dari China. "The bigger issue is the exposure of sensitive supplier and component information that Apple would never willingly put in the public domain," kata Paolo Pescatore, founder dan analis di firma riset teknologi PP Foresight kepada Al Jazeera. Hingga saat ini, pihak Tata Electronics mengonfirmasi telah membatasi akses internal mereka dan segera menggelar investigasi forensik digital guna melacak titik lemah keamanan sistem komputasi mereka.

"A breach of this nature is not usually a smash-and-grab exercise," kata Paolo Pescatore.

Menurutnya, para pelaku peretasan umumnya membutuhkan kredensial yang lemah atau celah internal pada sistem keamanan vendor untuk memindahkan data korporasi bervolume besar tanpa terdeteksi. "That underlines how cybersecurity is now only as strong as the weakest link in the supply chain," kata Paolo Pescatore. Di sisi lain, publik melihat langkah penumpasan cepat terhadap video yang beredar di platform X mengindikasikan keaslian materi bocoran dokumen tersebut yang ditangani secara agresif.

"Apple has already started blocking the leaked data on Twitter," kata IceUniverse melalui sebuah takarir di platform Weibo Cina.

Mantan pemilik akun pembocor gawai ternama, Evan Blass, juga mengonfirmasi dirinya sama sekali tidak terlibat dengan akun tiruan baru yang menyebarkan klip visual gawai iPhone terbaru tersebut. "Looks like Apple may have done what Samsung never could," kata Evan Blass.

Hingga saat ini, belum ada indikasi data konsumen yang ikut tercuri, sementara Tata Electronics dan Apple terus berupaya memperkuat keamanan siber jangka panjang pasca-insiden tersebut. "It would sharpen the focus on whether new manufacturing hubs can match Apple’s expectations on operational secrecy, cyber-resilience and trust," kata Paolo Pescatore.

Peneliti keamanan siber Rajshekhar Rajaharia mengingatkan bahwa skema pemerasan bermodus peretasan infrastruktur manufaktur global kini kian marak terjadi dan menyasar berbagai korporasi besar dunia. "Hacking manufacturing systems or gaining network access to extort ransom has become very common. It doesn’t matter if you are an IT," kata Rajshekhar Rajaharia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author