Alexander Isak Pimpin Swedia Hadapi Prancis di Piala Dunia 2026

Share

Penyerang tim nasional Swedia Alexander Isak bersiap memimpin lini depan negaranya untuk menghadapi Prancis pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung hari Selasa.

Kepastian tersebut didapat setelah Swedia berhasil melangkah ke babak gugur seusai bermain imbang 1-1 melawan Jepang di Dallas Stadium pada Jumat pagi WIB. Dalam laga terakhir Grup F tersebut, Isak tampil penuh dan nyaris mencetak gol kemenangan pada masa injury time melalui sundulan yang membentur mistar gawang setelah ditepis kiper Zion Suzuki.

Sepanjang fase grup turnamen di Amerika Utara ini, penyerang berusia 26 tahun tersebut telah mencatatkan satu gol dan tiga assist dari tiga pertandingan. Selain performanya di lapangan, Isak juga menarik perhatian global karena menyematkan bendera Eritrea di sisi sepatu kanannya yang berdampingan dengan bendera Swedia sebagai bentuk penghormatan terhadap asal-usul orang tuanya.

Mantan pemain timnas Swedia Stefan Schwarz memberikan pandangannya mengenai beban besar dan ekspektasi yang kini berada di pundak Isak, terutama setelah kepindahannya ke Liverpool senilai 125 juta poundsterling.

"Menurut saya, yang terpenting adalah dia mencetak gol di pertandingan berikutnya melawan Prancis, itu yang utama. Dan mendapatkan pengalaman yang baik di Piala Dunia. Kita tidak boleh melihat terlalu jauh ke depan sekarang, fokusnya adalah untuk Swedia di Piala Dunia.

Tapi akan menarik untuk melihat Isak menjalani pramusim sejak awal, itu akan sangat membantunya. Saya rasa dia merasa bisa bermain dalam lebih banyak pertandingan. Cedera datang, pindah ke klub baru, di klub besar seperti Liverpool, dan dia menghadapi tekanan.

Saya pikir dia adalah pemain yang luar biasa. Satu-satunya hal adalah, apakah dia bisa terhindar dari cedera dan bermain setiap pekan. Jika dia bisa, dia akan menjadi aset yang fantastis bagi Liverpool." ujar Stefan Schwarz.

Schwarz juga mengomentari situasi rekan setim Isak di tim nasional, Anthony Elanga, yang saat ini memperkuat Newcastle United setelah mengalami musim pertama yang cukup berat.

"Menurut saya, hanya karena mengalami setengah musim yang buruk, bukan berarti Anda harus pindah klub. Terkadang Anda harus bertahan di sana dan terus berusaha, karena Anda membutuhkan konsistensi di antara para pemain. Anda perlu membangunnya.

Terkadang hal itu tidak berhasil di musim pertama, tetapi musim kedua bisa sangat sukses jika Anda memiliki semangat, jika Anda memiliki hasrat. Dan mengetahui bahwa mereka mengalami satu musim yang tidak biasa, yang bukan merupakan level Newcastle yang kita kenal, saya pikir mereka bisa menjadi cukup berbahaya jika mereka mempertahankan para pemain dan performa yang kita tahu mereka miliki." kata Stefan Schwarz.

Mengenai latar belakang dan identitasnya sebagai anak imigran asal Eritrea yang tumbuh besar di Solna, Isak mengungkapkan kedekatannya dengan komunitas tersebut dalam sebuah wawancara.

"Meskipun saya tumbuh besar di Swedia, saya selalu berada di sekitar komunitas Eritrea. Saya dibesarkan dalam lingkungan itu. Saya belum sering kembali ke sana belakangan ini, tapi kunjungan terakhir saya adalah pengalaman yang sangat indah. Mereka belum punya banyak idola di dunia olahraga." tutur Alexander Isak kepada Alan Shearer.

Pernyataan serupa mengenai pencarian identitas diri dan lingkungan masa kecilnya juga sempat ia sampaikan kepada media Give Me Sport.

"Saya memang tumbuh besar di Swedia, tapi saya tinggal di komunitas Eritrea sejak lahir," kata Alexander Isak.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author