IHSG 30 Juni 2026 Anjlok 3,05 Persen Akibat Tekanan Saham Big Caps

Share

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan signifikan pada penutupan perdagangan Selasa (30/6/2026). Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, indeks saham domestik anjlok sebesar 3,05% dan terdampar di level 5.643.

Koreksi tajam ini dipicu oleh rontoknya saham-saham berbobot besar (big caps). Emiten perbankan raksasa seperti BBCA dan BBRI menjadi motor utama pelemahan, yang kemudian diperberat oleh saham BRPT.

Sepanjang sesi, pergerakan indeks terus tertahan di zona merah tanpa mampu bangkit. Posisi tertinggi hanya mencapai level 5.811, sementara titik terendahnya sempat menyentuh 5.638.

BRI Danareksa Sekuritas mengonfirmasi bahwa kejatuhan ini disebabkan oleh aksi investor yang memasuki fase risk-off. Para pelaku pasar memilih untuk membatasi risiko ketimbang menambah portofolio saham mereka.

Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas melihat adanya indikasi tren bearish yang kuat. Hal ini tecermin dari histogram positif MACD yang terus mengecil serta potensi terjadinya death cross, ditambah Stochastic RSI yang bergerak turun.

Sentimen negatif pasar kian diperparah oleh kondisi nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,19% dan bertengger di posisi Rp17.882/US$ berdasarkan data pasar spot Bloomberg.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi harian tercatat mencapai Rp15,33 triliun. Total saham yang diperdagangkan sebanyak 22,72 miliar lembar dengan frekuensi transaksi mencapai 1,62 juta kali.

Kondisi pasar secara umum didominasi oleh tren penurunan yang masif. Tercatat hanya 136 saham yang bergerak menguat, sedangkan 564 saham melemah, dan 99 saham lainnya stagnan.

Sektor barang baku menjadi penekan utama dengan kejatuhan mencapai 5,53%. Pelemahan ini diikuti oleh sektor energi sebesar 3,51%, sektor konsumen non-primer sebesar 2,79%, dan sektor properti yang melorot 2,68%.

Sebanyak 10 saham dengan kapitalisasi pasar besar menjadi penekan utama indeks dalam jajaran top losers hari ini.

Daftar Saham Big Caps Pemberat IHSG Perdagangan 30 Juni 2026
Nama Emiten Poin Tekanan Terhadap Indeks
35,32 poin 17,34 poin
9,91 poin 7,62 poin
7,08 poin 6,78 poin
6,29 poin 6,11 poin
5,54 poin 5,44 poin

Selain deretan saham tersebut, beberapa saham unggulan di indeks LQ45 juga mengalami koreksi dalam. Saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) anjlok 9,65% dan saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) merosot 7,79%.

Kondisi serupa dialami oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang turun 7,02%, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) ambles 6,48%, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah 6,38%, serta PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terpangkas 6,36%.

Situasi di pasar modal Indonesia berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham di Asia yang bergerak di zona hijau. Penguatan dipimpin oleh TW Weighted Index, Shenzhen Comp, CSI 300, KOSPI, NIKKEI 225, SETI, Shanghai Composite, TOPIX, dan Ho Chi Minh Stock.

Tekanan eksternal terhadap rupiah terpantau belum mereda hingga mata uang domestik sempat menyentuh level intraday terlemahnya di Rp17.908/US$. Posisi ini semakin mendekati batas psikologis krusial di level Rp18.000/US$.

Pasar saat ini tengah mengantisipasi rilis data inflasi nasional periode Juni oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Konsensus Bloomberg memproyeksikan laju inflasi tahunan akan meningkat dengan median berada di angka 3,1%.

“Pergerakan rupiah dan sentimen global diperkirakan masih menjadi faktor yang menentukan arah pasar dalam jangka pendek,” terang BRI Danareksa Sekuritas.

Hingga akhir Juni 2026, rupiah tercatat telah terdepresiasi sebesar 6,67% sepanjang tahun berjalan. Sementara itu, IHSG sudah merosot hingga 34,74% sejak awal tahun.

Berdasarkan data Phintraco Sekuritas, kejatuhan pada hari ini memastikan return bulanan IHSG berada di teritori negatif selama enam bulan berturut-turut. Ini merupakan siklus penurunan terburuk dalam 10 tahun terakhir perdagangan saham.

“Secara teknikal, histogram positif MACD mengecil dan berpotensi terjadi death cross. Stochastic RSI berada di area pivot dan masih melanjutkan ke arah bawah. Sehingga IHSG diperkirakan berpotensi akan menguji level 5.500,” papar Phintraco.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author