Safari Politik Jokowi di Lampung Picu Ketegangan PDIP dan PSI
Kegiatan safari perdana mantan Presiden Joko Widodo ke Provinsi Lampung memicu perdebatan sengit dan saling balas komentar antara politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Sorotan publik tertuju pada prosesi adat muakhi yang diikuti Jokowi, di mana ia terlihat menginjak kepala kerbau di atas karpet merah. Juru Bicara PDIP Guntur Romli mempertanyakan esensi dari ritual tersebut.
"Pendukung Jokowi sedang berhalusinasi yang diinjak itu kepala banteng, padahal kerbau," kata Gunrom, dikutip dari detikcom, Senin (29/6).
Kritik serupa juga disampaikan oleh Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira pada Selasa (30/6). Ia menilai pemberian gelar adat kepada seorang mantan presiden sebagai hal yang tidak biasa.
"Menurut saya tidak biasa dan tidak pantas seseorang yang sudah pernah menjadi presiden yang merupakan simbol pemersatu bangsa, kemudian datang ke daerah untuk dinobatkan sebagai raja, atau sebagai kepala adat atau kepala suku dari sekelompok masyarakat," kata Andreas, dikutip dari detikNews, Selasa (30/6).
Andreas menambahkan bahwa publik akan merasa lebih bangga jika Jokowi menerima penghargaan akademik berskala internasional.
"Harus naik kelas dong, kelasnya harus beda dong. Masa sih, mantan presiden mainannya masih lokal-lokalan, masih mau cari dukungan suarakah?" imbuh dia.
Berbeda dengan rekan separtainya, Ketua DPR RI Puan Maharani memberikan pandangan yang lebih netral terkait aktivitas politik tersebut.
"Safari politik, hak semua warga negara untuk bisa melakukan kunjungan ke mana saja," kata Puan kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Menanggapi rentetan kritik dari internal PDIP, elite politik PSI Bestari Barus melayangkan pembelaan dan meminta partai tersebut untuk fokus melakukan pembenahan internal.
"Kalau nggak suka ya sudah hindarin saja. Kalau kemudian luka, kecewa, dan merasa terdegradasi oleh ditinggalkan Pak Jokowi, ya berbenah dululah diri. Ini ngaku kadang-kadang opsi, kadang-kadang tidak oposisi. Orang nggak jelas jenis kelaminnya mau gimana sih," ujar dia.