SinemArt Rilis Film Suamiku Lukaku untuk Kampanyekan Edukasi Anti KDRT

Share

Rumah produksi SinemArt bersiap merilis film layar lebar terbaru berjudul "Suamiku Lukaku" di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 Mei 2026 sebagai upaya mengampanyekan edukasi penolakan terhadap kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Film yang disutradarai oleh Ssharad Sharaan bersama Viva Westi dengan naskah tulisan Titien Wattimena ini mengangkat kisah pasangan suami istri, Amina (Acha Septriasa) dan Irfan (Baim Wong).

Irfan merupakan seorang motivator ternama yang dihormati publik, namun kerap melakukan kekerasan fisik serta verbal yang manipulatif terhadap istrinya di dalam rumah.

Amina yang mengalami tekanan emosional hebat dibantu oleh seorang pengacara berani bernama Zahra (Raline Shah) untuk memperjuangkan haknya dan keluar dari lingkaran kekerasan tersebut.

Produksi film ini terinspirasi dari realitas sosial di Indonesia, di mana statistik menunjukkan bahwa satu dari empat perempuan mengalami kekerasan dalam relasi rumah tangga.

Sebagai bagian dari peluncuran, SinemArt mengadakan serangkaian kegiatan mulai dari psychology talkshow, diskusi publik di berbagai daerah, program goes to campus, hingga kampanye gerakan #memecahkankesunyian saat Car Free Day di lima kota.

Sutradara Viva Westi menjelaskan bahwa karya ini diproduksi demi menyuarakan keberanian bagi kaum perempuan agar mampu menghentikan tindakan kekerasan di lingkungan domestik.

"Film ini harus dibuat, karena seandainya memang ada empat perempuan dan satu kena KDRT, kira-kira berapa banyak di sini yang ada? Itu yang jadi pertanyaan," kata Viva Westi, Sutradara.

Viva Westi menambahkan bahwa alur cerita yang disajikan tidak sekadar menjual penderitaan, melainkan membawa misi emansipasi agar korban berani memperjuangkan hak hidupnya.

"Film ini bukan hanya menceritakan atau menawarkan tentang kesedihan atau sebagainya, tapi bagaimana perempuan harus berani berbicara untuk dirinya, perempuan harus berani bahagia untuk dirinya," tutur Viva Westi, Sutradara.

Aktris utama Acha Septriasa membagikan pengalamannya yang sempat mengalami pecah pembuluh darah di wajah akibat totalitas mendalami adegan emosional yang harus diulang sebanyak 20 kali.

"Ketika udah take satu, take dua, dan pasti shot-nya kan lebih dari tujuh lah ya, akhirnya kan ulang 20 kali tuh. Itu sampai pembuluh darah saya tuh di muka pakai pecah-pecah gitu. Itu enggak tahu karena stres atau karena saya juga kepikiran," ujar Acha Septriasa, Aktris.

Kondisi fisik tersebut sempat dikira sebagai reaksi alergi kosmetik, namun ternyata merupakan dampak langsung dari luapan emosi jujur saat berakting di depan kamera.

"Saya pikir alergi makeup, tapi ternyata itulah semua pembuluh darah di muka saya pecah udah kayak sapu lidi satu muka tuh isinya merah-merah. Jadi ternyata ketika kita akting pun karena kita melakukannya dengan jujur akhirnya efeknya juga ke badan juga," imbuh Acha Septriasa, Aktris.

Acha Septriasa juga mengakui bahwa karakter Amina memberikan beban psikologis yang berat dan menguras energi mental selama proses syuting berlangsung.

"Kalau secara mental ya pastinya tetap ada rasa hopeless-nya ya, kayak saya pengen aja setiap adegan yang terlahirkan di film ini tuh bisa benar-benar nantinya menyentuh hati yang nonton sebagai hiburan juga sebagai entertainment," ujar Acha Septriasa, Aktris.

Melalui peran ini, Acha berharap pesan kemanusiaan dalam film dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton demi menekan angka kasus KDRT.

"Tapi juga di satu sisi bisa turut merasakan apa yang dirasakan Amina sehingga tidak ada lagi yang namanya istri-istri yang menderita di luar sana gitu," tambah Acha Septriasa, Aktris.

Acha Septriasa mengutarakan pandangannya mengenai motif para korban KDRT yang sering kali memilih bertahan demi keluarga karena berharap adanya perubahan sikap dari pasangan mereka.

"Keberanian sekecil apa pun tetap berarti," ungkap Acha Septriasa, Aktris.

Di sisi lain, netizen sempat menjodoh-jodohkan Acha Septriasa dan Baim Wong di dunia nyata karena keserasian chemistry mereka, terlebih keduanya sama-sama berstatus lajang setelah resmi bercerai dari pasangan masing-masing pada tahun 2025.

"Kalau kita pernah ngebahas ini, ini kayak film Mr. & Mrs. Smith gitu. Tapi ini versi Indonesianya, tapi tentang hal yang lebih serius ya, tentang kekerasan dalam rumah tangga," ujar Acha Septriasa, Aktris.

Sambil bercanda, Acha menanggapi santai perjodohan tersebut dan menyebut bahwa lawan mainnya itu memang kerap dipasangkan oleh netizen dengan siapa saja.

"Cuma kalau Baim Wong kayaknya dijodohkan sama siapa pun ya?" celetuk Acha Septriasa, Aktris.

Aktor Baim Wong memaparkan bahwa kedekatan emosional dan persahabatan jangka panjang yang mereka miliki menjadi kunci kemudahan dalam membangun kedekatan peran, salah satunya difasilitasi melalui kegiatan makan bersama.

"Kita sebenarnya sudah lama temenan. Pas pertama kali syuting kita lama ngobrol sama makan, akhirnya chemistry itu gampang timbul lagi," ungkap Baim Wong, Aktor.

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Acha yang memuji sifat royal Baim Wong dalam hal menyediakan konsumsi yang baik selama masa produksi film.

"Iya, kalau saya dikasih makan terus. Ditraktir makan yang enak-enak. Baim itu hobi makan, dia nggak pernah kasih makanan yang nggak enak," tambah Acha Septriasa, Aktris.

Baim Wong menceritakan kontrasnya hubungan mereka di lokasi syuting, di mana ia harus berakting kejam dan menggunakan teknik kejutan fisik demi memancing reaksi ketakutan yang organik dari Acha.

"Dia jahat banget (di film). Tapi itu tugas kita sebagai pemain. Selesai take dia sampai ngomong: 'Seumur hidup gua nggak pernah diginiin sama orang ya!'" kenang Baim Wong, Aktor.

Mengenai pendalaman perannya sebagai suami manipulatif, Baim Wong menilai bahwa figur publik yang menyembunyikan watak kasar di balik topeng kepalsuan adalah fenomena nyata di era modern.

"Kekerasan bisa tersembunyi di balik citra baik seseorang," ujar Baim Wong, Aktor.

Executive Producer David Suwarto menegaskan bahwa film ini memuat pesan sosial yang mendalam karena fenomena pembiaran dari lingkungan sekitar sering kali memperburuk situasi yang dialami korban.

"Diam bukan lagi jawaban bagi korban kekerasan," ujar David Suwarto, Executive Producer.

Sutradara Ssharad Sharaan menambahkan penjelasan bahwa dampak destruktif dari tindakan KDRT tidak melulu berupa luka luar, melainkan bisa berupa intimidasi yang merusak mental korban dari dalam.

"Keberanian bersuara bisa menjadi awal perubahan," ujar Ssharad Sharaan, Produser dan Sutradara.

Selain didukung oleh jajaran pemeran seperti Ayu Azhari, Azkya Mahira, Gusty Pratama, dan Putri Ayudya, aspek emosional film ini juga diperkuat oleh lagu tema berjudul "Aku Bangkit" yang dinyanyikan oleh Kris Dayanti serta dibawakan dalam versi ballad oleh penyanyi Korea Selatan, Chae Yeon.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author