Kurs Rupiah NDF Stabil di Rp17.891 per Dolar AS 30 Juni 2026
Nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terpantau bergerak stabil pada perdagangan Selasa 30 Juni 2026.
Dikutip dari Bloombergtechnoz, posisi rupiah berada di level Rp17.891/US$ pada pagi hari, atau hanya berubah tipis 0,02% dari penutupan sebelumnya di angka Rp17.887/US$.
Sementara itu, indeks dolar Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah mata uang utama masih bertahan kuat di kisaran 101,18 pada sesi pagi pukul 07.30 WIB.
Penguatan dolar AS yang terjadi secara persisten memicu pergerakan variatif pada sejumlah mata uang di kawasan Asia.
Beberapa mata uang terjebak di zona merah, termasuk won Korea Selatan, baht Thailand, yen Jepang, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong.
Mata uang won Korea Selatan bahkan telah menembus level psikologis baru di angka KRW1.500/US$ akibat maraknya aksi jual investor asing.
Para analis memproyeksikan arah pergerakan won pada paruh kedua tahun ini akan dipengaruhi oleh tiga faktor utama.
Faktor tersebut meliputi redanya tekanan jual asing, keputusan Bank of Korea terkait suku bunga acuan, serta realisasi arus masuk dolar AS dari rencana pencatatan American Depositary Receipt (ADR) milik SK hynix senilai US$30 miliar di bursa Nasdaq bulan depan.
Aksi lepas saham oleh investor asing di bursa KOSPI Korea Selatan tercatat mencapai penjualan bersih sebesar KRW136,78 triliun sejak awal tahun hingga Jumat pekan lalu.
Pada pasar obligasi negara tersebut, pemodal asing juga melepas kepemilikan senilai US$15,4 juta pada 26 Juni.
Kondisi gelombang modal keluar ini memicu lonjakan permintaan terhadap dolar AS, sehingga menggerus keunggulan dari surplus transaksi berjalan.
Di sisi lain, mata uang ringgit Malaysia justru menguat berkat dana asing yang membukukan pembelian bersih saham senilai US$13,6 juta pada perdagangan kemarin 29 Juni 2026.
Dinamika Sentimen Domestik Indonesia
Penguatan mata uang rupiah mendapat sokongan dari aksi beli bersih pada obligasi pemerintah RI yang mencapai US$346 juta pada 26 Juni.
Namun, situasi berbalik di pasar saham domestik karena investor justru mencatatkan penjualan bersih senilai US$49,4 juta pada perdagangan kemarin.
Walaupun pergerakan rupiah cenderung terjaga sejak awal pekan, koreksi nilai tukar domestik sejatinya tercatat lebih dalam dibandingkan negara tetangga.
Rupiah menempati posisi sebagai mata uang terlemah di Asia dengan pelemahan sebesar 4,78% sejak awal kuartal kedua, diikuti yen Jepang sebesar 2,12% dan won Korea Selatan 1,94%.
Kondisi ini dipengaruhi oleh sentimen twin deficits, yang merujuk pada kombinasi antara defisit transaksi berjalan yang membesar serta pelebaran defisit fiskal.
Terkait hal tersebut, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memberikan penjelasan mengenai kondisi keuangan negara.
"Kondisi fiskal Indonesia tetap terjaga dengan baik, diperkirakan tetap berada di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)," kata Juda Agung.
Proyeksi defisit anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diperkirakan melebar ke angka 2,9% terhadap PDB, naik dari posisi 2025 yang berada di level 2,6%.
Guna meredam volatilitas di pasar, pemerintah menerapkan kombinasi kebijakan fiskal serta pengelolaan likuiditas.
Langkah nyata yang ditempuh adalah memastikan penempatan dana sebesar Rp281 triliun di sektor perbankan yang diperpanjang hingga akhir tahun 2026, ditambah kesiapan dana cadangan sebesar Rp100 triliun.
Langkah intervensi lain juga dilakukan dengan mempertahankan harga gas bumi tertentu untuk sektor industri demi menjaga daya saing manufaktur lokal.
Analisis Teknikal Pergerakan Rupiah
Berdasarkan indikator teknikal, pergerakan nilai tukar rupiah hari ini masih menyimpan potensi untuk melanjutkan penguatan.
Rupiah berpeluang menuju area resistance terdekat pada level Rp17.800/US$, dengan target penguatan berikutnya di posisi Rp17.770/US$ setelah melewati garis tren sebelumnya.
Pada grafik harian, level Rp17.700/US$ menjadi titik acuan paling optimistis untuk tren jangka pendek.
Sebaliknya, apabila pergerakan berbalik arah menuju area support di Rp17.900/US$, maka target pelemahan selanjutnya diprediksi menguji level psikologis Rp18.000/US$ hingga Rp18.100/US$.