Gelombang Panas Ekstrem Lumpuhkan Infrastruktur di Eropa

Share

Gelombang panas ekstrem melumpuhkan sektor transportasi dan pasokan listrik di sejumlah negara Eropa sejak 20 Juni 2026 akibat lonjakan suhu udara yang menembus 41 derajat Celsius.

Kerusakan infrastruktur dilaporkan terjadi di Swedia akibat rel kereta yang melengkung, sementara Jerman terpaksa mengurangi layanan kereta dan menghentikan operasional trem. Penurunan debit air sungai juga memaksa Prancis dan Swiss memangkas kapasitas operasional reaktor nuklir mereka karena kekurangan air pendingin.

Sektor kesehatan turut menghadapi tekanan besar menyusul lonjakan pasien dehidrasi dan serangan panas di berbagai rumah sakit. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan pusat cuaca ekstrem ini segera bergeser menuju Eropa Tengah dan kawasan Balkan.

"Saat ini sekitar 150 juta orang hidup dalam kondisi panas ekstrem. Ratusan orang meninggal dunia, sekolah-sekolah ditutup, dan jaringan listrik mulai kewalahan," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Ia mengingatkan bahwa fenomena cuaca buruk yang dipicu oleh pemanasan global ini tidak lagi menjadi peristiwa langka melainkan ancaman tahunan.

"Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, gelombang panas yang dulu hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun. Kita sebenarnya sudah diperingatkan," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Para ilmuwan menegaskan peningkatan suhu di Eropa berlangsung lebih cepat dibandingkan kawasan lain, sehingga intensitas fenomena ini diprediksi terus meningkat jika emisi gas rumah kaca tidak segera ditekan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author