Pemprov DKI Jakarta Luncurkan Jakarta Film Commission Perkuat Ekosistem Sinema
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta resmi menghadirkan Jakarta Film Commission (JFC). Langkah ini diambil sebagai layanan terpadu satu pintu demi memperkokoh ekosistem industri sinema di ibu kota, seperti dikutip dari Detikcom.
Inisiatif tersebut sekaligus menjadi wujud nyata dalam merealisasikan komitmen Jakarta sebagai Kota Sinema yang berdaya saing di tingkat internasional. Operasional layanan ini berjalan lewat program Filming in Jakarta.
Program tersebut dikelola oleh Jakarta Experience Board (JXB) di bawah payung PT Jakarta Tourisindo. Kehadiran JFC diproyeksikan mampu menjadi stimulus besar bagi perkembangan industri film tanah air.
Sebagai penggerak, JFC bakal memfasilitasi kemudahan di seluruh lini produksi sinema di Jakarta. Hal ini mencakup efisiensi ongkos pengambilan gambar hingga penyediaan akses bagi para produser.
Platform ini juga mempertemukan sineas lokal maupun mancanegara dengan jaringan vendor di Jakarta. Seluruh vendor tersebut dipastikan telah lolos kualifikasi dan mengantongi sertifikasi internasional.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno memaparkan bahwa wadah resmi tersebut dipersiapkan untuk melayani berbagai keperluan pembuatan film. Fasilitas yang diberikan meliputi urusan perizinan, penentuan lokasi, hingga koordinasi lapangan.
"Semuanya dirancang untuk mempermudah proses produksi bagi tim lokal maupun internasional," ujar pria yang akrab disapa Bang Rano ini dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).
Sistem pelayanan terpadu yang disediakan oleh JFC ini membawa sejumlah inovasi serta kemudahan yang menyeluruh bagi para pelaku industri kreatif.
Beberapa fasilitas tersebut meliputi pemotongan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) untuk Jasa Kesenian dan Hiburan pada tontonan film nasional sebesar 50 persen. Langkah ini diharapkan mampu merangsang produksi lokal.
Selain itu, terdapat mekanisme koordinasi perizinan yang terintegrasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Layanan ini menjanjikan kepastian durasi waktu pengurusan serta kejelasan standar operasional prosedur (SOP) demi memotong birokrasi.
Sineas juga dipermudah dengan ketersediaan basis data akses lokasi syuting di Jakarta. Direktori tersebut menyajikan kurasi tempat-tempat ikonis hingga lanskap perkampungan kota yang bernuansa autentik.
Melalui standardisasi global, produser dalam negeri maupun luar negeri dapat langsung terhubung dengan ekosistem vendor lokal yang kompeten. Penyelarasan ini bertujuan menjaga kualitas hasil akhir produksi.
Direktur Utama Jakarta Experience Board, Yunn Bali Mohammad Yusuf mengekspresikan rasa bangganya atas keterlibatan institusi yang dipimpinnya dalam mengomandani Filming in Jakarta. Pihaknya berkomitmen menjadikan JFC sebagai rekan strategis.
Kemitraan ini ditujukan agar para sineas dapat menggali seluruh potensi Jakarta sebagai latar cerita yang berbobot global. JFC akan diposisikan lebih dari sekadar pusat data.
"Tugas kami memastikan JFC tidak hanya menjadi pusat informasi, tetapi juga menjadi sahabat dan mitra terbaik bagi para pembuat film," tutur Yunn.
Guna mempererat jaringan dan membangun kedekatan komunitas, JFC kini mengundang para sineas serta rumah produksi untuk bergabung dalam skema keanggotaan resmi agar bisa memperoleh keuntungan eksklusif.
Pasca-agenda peluncuran resmi ini, JFC sedang merampungkan persiapan serangkaian program kerja strategis yang dijadwalkan bergulir pada kuartal berikutnya.