Krimer Kopi Kurangi Manfaat Kesehatan dan Picu Penuaan Kulit
Menambahkan krimer ke dalam secangkir kopi disinyalir dapat mempercepat proses penuaan pada kulit. Fakta ini diungkapkan oleh dokter spesialis dermatologi kosmetik, Dr. Nora Jaafar, sebagaimana dikutip dari Detik Food melalui laporan Newsweek.
Kopi pada dasarnya merupakan minuman andalan yang memiliki beragam khasiat bagi tubuh jika dikonsumsi dalam batas wajar. Namun, kegunaan positif tersebut dapat mengalami penurunan akibat kontaminasi bahan tambahan seperti krimer.
Berdasarkan data survei pada tahun 2019, terdapat hampir 80% orang yang mempunyai kebiasaan mencampurkan krimer, gula, atau bahan pelengkap lain ke dalam kopi mereka. Fenomena ini membuat konsumsi kopi hitam murni menjadi sangat minim.
Dr. Nora Jaafar menjelaskan bahwa zat kafein mempunyai kaitan yang sangat unik terhadap kondisi kesehatan kulit manusia. Efek yang dihasilkan sangat bergantung pada tata cara pemakaian serta takaran konsumsinya.
"Kafein memiliki hubungan ganda dengan kulit. Jika digunakan pada kulit, kafein bekerja sebagai penyempit pembuluh darah sekaligus antioksidan," ujar Jaafar.
"Jika dikonsumsi dalam jumlah sedang, kafein memiliki manfaat antiradang bagi tubuh," tutur Jaafar.
Melalui penjelasan tersebut, kopi murni sebenarnya bukan menjadi faktor utama yang memicu penuaan pada kulit.
Kandungan Krimer yang Merusak Kolagen
Masalah penuaan dini justru bersumber dari beberapa zat kimia yang terkandung di dalam krimer komersial. Beberapa bahan berbahaya yang wajib diwaspadai antara lain minyak terhidrogenasi, padatan sirup jagung, dan pengemulsi (emulsifier) sintetis.
"Minyak terhidrogenasi dapat merusak lapisan pelindung kulit sehingga kulit menjadi lebih kering dan sensitif," kata Jaafar.
"Padatan sirup jagung memicu proses glikasi yang merusak kolagen dan elastin sehingga tanda penuaan lebih cepat terlihat," ujar Jaafar.
Dampak Terhadap Pencernaan dan Munculnya Jerawat
Selain merusak struktur kolagen, kandungan emulsifier sintetis di dalam krimer juga disinyalir mampu mengganggu stabilitas mikrobioma pada usus manusia. Dampak buruk dari kerusakan pencernaan ini umumnya akan langsung termanifestasi pada bagian kulit.
"Gangguan mikrobioma usus hampir selalu muncul di kulit berupa peradangan, pori tersumbat, jerawat, hingga rosacea," kata Jaafar.
"Bahan-bahan tersebut menyerang kesehatan kulit dari berbagai sisi secara bersamaan," ujar Jaafar.
Oleh karena itu, pembatasan konsumsi krimer sangat disarankan demi menjaga kesehatan penampilan fisik.
Opsi Pengganti yang Lebih Sehat
Bagi penikmat kopi yang tidak biasa meminumnya secara hitam pekat, Dr. Nora Jaafar memberikan alternatif pengganti krimer yang jauh lebih aman. Penggunaan susu murni atau susu oat tanpa pemanis tambahan dinilai menjadi opsi terbaik.
"Susu murni atau susu oat tanpa gula yang dikonsumsi bersama makanan jauh lebih ramah bagi kulit dibanding krimer," kata Jaafar.
Sebagai opsi lain di luar kopi, konsumsi matcha juga sangat disarankan untuk dikonsumsi secara rutin pada pagi hari.
"Matcha mengandung kafein dan L-theanine sehingga memberikan energi lebih stabil tanpa lonjakan kortisol, sekaligus kaya antioksidan EGCG yang baik untuk melindungi kulit," ujar Jaafar.