AS dan Iran Siap Gelar Perundingan Damai Kembali di Doha
Amerika Serikat dan Iran siap menggelar kembali perundingan damai di Doha, Qatar, pada Selasa (30/6) demi meredakan konflik maritim. Langkah ini disepakati setelah kedua negara menghentikan rangkaian aksi saling serang di Selat Hormuz, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Donald Trump mengumumkan rencana pertemuan tersebut melalui media sosial setelah adanya permintaan dari pihak Teheran sehari sebelumnya.
Delegasi tingkat tinggi dan tim teknis Amerika Serikat dijadwalkan segera bertolak menuju ibu kota Qatar. "Iran telah mengajukan permohonan untuk mengadakan pertemuan," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pertemuan itu dipastikan berlangsung setelah ketegangan sempat memuncak akibat serangan terhadap kapal kontainer dan pangkalan militer akhir pekan lalu. Di samping agenda utama tersebut, diskusi teknis antar-kedua negara juga akan digelar secara terpisah.
"Pertemuan tersebut akan berlangsung besok di Doha." kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk mencapai kesepakatan damai dalam menyelesaikan konflik yang telah berjalan selama empat bulan ini. Meski demikian, pihak Washington tetap memberikan peringatan keras terkait potensi pelanggaran komitmen di masa depan.
"kekerasan akan dibalas dengan kekerasan." kata Karoline Leavitt, Juru Bicara Gedung Putih. Di pihak lain, ketidakpastian sempat muncul dari internal pemerintahan Teheran mengenai lini masa pembicaraan. Hubungan bilateral kedua negara juga masih dibayangi sengketa pengelolaan Selat Hormuz yang menjadi jalur energi global.
"belum ada jadwal yang ditetapkan untuk pembicaraan teknis tersebut." sebut Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran. Iran juga mempertegas posisi politik mereka terkait kendali penuh atas koridor maritim strategis tersebut. Kunjungan diplomatik ke negara tetangga dilakukan guna menekankan penolakan terhadap keterlibatan koalisi internasional di kawasan. "Republik Islam Iran memegang tanggung jawab penuh atas pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz." tegas Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Di wilayah Lebanon, situasi keamanan juga menjadi rumit setelah faksi lokal menolak kesepakatan gencatan senjata regional secara sepihak. Pernyataan penolakan ini berpotensi memengaruhi dinamika negosiasi utama antara Amerika Serikat dan Iran.
"batal." sebut kelompok Hizbullah. Tokoh parlemen setempat memperkuat sikap kelompok tersebut terkait kesepakatan yang melibatkan Israel. Kondisi stabilitas regional saat ini masih bergantung penuh pada hasil perundingan lanjutan di Doha. "sama sekali tidak akan diterapkan." kata Nabih Berri, Ketua Parlemen Lebanon.