Ubah Pola Makan Setelah Usia 30 Tahun untuk Cegah Penyakit Kronis

Share

Penyesuaian pola makan menjadi hal penting saat seseorang memasuki usia 30 tahun. Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga kesehatan sekaligus menurunkan risiko penyakit kronis. Dilansir dari Detik Food, metabolisme tubuh mulai melambat dan massa otot berkurang secara alami pada fase ini.

Di sisi lain, risiko terhadap berbagai penyakit kronis justru mulai mengalami peningkatan. Para ahli menyarankan perubahan kebiasaan makan secara konsisten agar lebih mudah dipertahankan. Pola hidup sehat ini dinilai lebih efektif daripada menjalani diet ketat dalam waktu singkat.

Terdapat beberapa kebiasaan makan yang perlu disesuaikan untuk menjaga fungsi tubuh tetap optimal seperti dilansir dari Eating Well (39/6/2026).

1. Kurang Konsumsi Serat

Kebutuhan serat menjadi semakin krusial ketika menginjak usia 30 tahun. Serat membantu melancarkan sistem pencernaan dan memberikan rasa kenyang lebih lama di tengah melambatnya metabolisme.

Jenis serat larut juga berperan memperlambat penyerapan gula. Proses ini bermanfaat untuk mengurangi lonjakan glukosa darah sekaligus menurunkan risiko diabetes tipe 2.

2. Masih Konsumsi Makanan Olahan

Makanan olahan umumnya tinggi kandungan natrium, gula tambahan, lemak jenuh, serta kalori. Padahal, kualitas gizi yang ada di dalamnya cenderung rendah.

Konsumsi makanan segar dan alami seperti sayuran, buah, ikan, telur, dan kacang-kacangan sangat disarankan. Nutrisi terbaik umumnya diperoleh dari makanan yang melewati sesikit proses pengolahan.

3. Tidak Memperhatikan Asupan Kalsium

Kepadatan tulang seseorang akan mengalami penurunan secara perlahan setelah melewati usia 30 tahun. Asupan kalsium yang cukup sangat dibutuhkan untuk menjaga kekuatan tulang di masa depan.

Kalsium bekerja bersama vitamin D dalam memelihara struktur tulang. Nutrisi ini bisa didapatkan dari susu rendah lemak, yogurt, keju, tahu, tempe, sarden, hingga brokoli.

4. Jarang Konsumsi Lemak Sehat

Tubuh tetap membutuhkan lemak tak jenuh untuk menjaga kesehatan jantung, otak, dan membantu penyerapan vitamin. Jenis lemak ini dapat menggantikan lemak jenuh yang merugikan tubuh.

Lemak sehat berfungsi menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL). Beberapa sumbernya meliputi alpukat, ikan salmon, minyak zaitun, biji chia, dan kacang almond.

5. Sedikit Makan Buah dan Sayur

Buah dan sayuran kaya akan vitamin, mineral, serta antioksidan yang melindungi sel tubuh dari radikal bebas. Memenuhi kebutuhan porsi ini berkontribusi menurunkan risiko penyakit kronis.

Para ahli menganjurkan untuk mengisi setengah porsi piring makan dengan sayur dan buah. Langkah ini efektif meningkatkan mutu gizi harian serta menekan asupan kalori berlebih.

6. Banyak Makan Gula

Minuman manis dan makanan penutup menjadi pemicu utama penumpukan gula tambahan dalam tubuh. Konsumsi berlebih memicu risiko obesitas, diabetes tipe 2, hingga gangguan jantung.

Gula berlebih juga memicu fluktuasi kadar darah yang membuat tubuh cepat merasa lapar. Pengurangan asupan gula bisa disiasati dengan minum air putih atau memilih buah segar.

7. Tidak Memenuhi Kebutuhan Protein

Massa otot yang berkurang secara alami seiring bertambahnya usia dapat dihambat dengan pemenuhan protein. Zat gizi ini juga memperbaiki jaringan tubuh dan mendukung sistem imun.

Asupan protein yang cukup dapat membantu mengendalikan nafsu makan sepanjang hari. Sumber protein berkualitas bisa diperoleh dari ayam tanpa kulit, telur, daging tanpa lemak, Greek yogurt, tahu, maupun tempe.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author