Strategy Hadapi Tekanan Keuangan Akibat Penurunan Harga Bitcoin
Perusahaan pemegang Bitcoin terbesar, Strategy, menghadapi tekanan keuangan yang meningkat di New York seiring merosotnya harga Bitcoin di bawah rata-rata biaya pembelian mereka hingga memicu lonjakan kewajiban dividen saham preferen perusahaan pada akhir Juni 2026. Dilansir dari idnfinancials.com, pelemahan harga Bitcoin mempersempit ruang keuangan Strategy karena struktur pendanaan dari penerbitan saham preferen berdividen tinggi justru memperbesar beban keuangan perusahaan saat nilai aset digital tersebut turun. Saham biasa Strategy (MSTR) jatuh ke level terendah dalam dua tahun di kisaran 82 dolar AS pada Jumat, sementara saham preferen Stretch (STRC) dengan dividen tahunan 11,5 persen merosot hingga ke level 71 dolar AS.
Total kewajiban dividen tahunan Strategy melonjak hampir empat kali lipat sejak awal 2026 menjadi sekitar 1,2 miliar dolar AS, sedangkan cadangan kas yang ada saat ini dilaporkan hanya cukup untuk membiayai dividen selama 10 bulan ke depan.
Hingga 22 Juni 2026, Strategy memegang 847.363 bitcoin dengan rata-rata biaya pembelian 75.646 dolar AS per koin, sehingga posisi tersebut mengalami kerugian sekitar 13 miliar dolar AS ketika harga Bitcoin mendekati 60.000 dolar AS. Meskipun berada dalam tekanan modal, Executive Chairman Strategy Michael Saylor memberikan sinyal potensi pembelian Bitcoin baru melalui unggahan grafik pelacak di platform X pada Minggu, 28 Juni 2026 dengan keterangan, "Kita akan membutuhkan lebih banyak grafik."
Kondisi keuangan ini memicu perdebatan di kalangan analis mengenai langkah yang harus diambil oleh manajemen Strategy untuk menyeimbangkan struktur modal mereka. "Mereka punya masalah besar. Mereka tidak dapat memuaskan semua bagian dari struktur modal mereka," kata Chief Investment Officer Arca, Jeff Dorman.
Dorman menyarankan Strategy segera menjual sebagian asetnya untuk memperkuat posisi keuangan karena nilai kepemilikan Bitcoin perusahaan masih mencapai sekitar 50 miliar dolar AS, sekaligus memperingatkan potensi gugatan dari pemegang saham. "Mereka berada dalam kesulitan, dan mereka harus menjual sesuatu," ujar Kepala Riset Aset Digital Fundstrat, Sean Farrell. Farrell menilai seluruh opsi yang dimiliki Strategy sama-sama berisiko, baik menerbitkan saham baru yang dapat mendilusi investor lama maupun menjual Bitcoin yang berisiko merusak reputasi perusahaan.
"Anda tidak boleh menempatkan risiko pada neraca yang bergantung pada kenaikan harga suatu aset dalam jangka waktu tertentu," kata Farrell.
Di sisi lain, Head of Research Grayscale Zach Pandl berpendapat bahwa model bisnis Strategy yang menggunakan leverage telah meningkatkan volatilitas untuk pasar BTC secara keseluruhan. "Singkatnya, model bisnis Strategy yang menggunakan leverage berada di bawah tekanan, dan ini telah meningkatkan volatilitas untuk pasar BTC secara keseluruhan," kata Zach Pandl. Pandl menambahkan bahwa pembeli lain perlu turun tangan ke pasar agar harga bitcoin dapat mencapai titik terendah yang berkelanjutan.
"Lebih lanjut, kami berpikir bahwa Strategy, yang secara historis merupakan pembeli bersih BTC, akan memiliki kemampuan terbatas untuk mengakumulasi lebih banyak token pada harga saham saat ini untuk STRC dan MSTR," kata Pandl.
Sementara itu, pihak manajemen Strategy menolak memberikan komentar atas laporan mengenai tekanan struktur modal dan struktur pendanaan mereka.