Dokter di NTT Meninggal Diduga Trauma Usai Diintimidasi Anggota DPRD
Seorang dokter bernama dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni alias dr. Icha (27) ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di rumah orang tuanya di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 18.00 WITA. Korban nekat mengakhiri hidupnya setelah sempat menjalani perawatan medis akibat tekanan psikologis dan trauma mendalam usai diduga diintimidasi oleh anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU), dilansir dari Detikcom.
Peristiwa dugaan intimidasi tersebut terjadi pada Sabtu (13/6/2026) di IGD RS Leona saat dr. Icha sedang menangani pasien anak korban gigitan ular hijau. Dua anggota DPRD TTU, Norbertus Tubani dari PKB dan Therensius Lazakar dari Partai Golkar, mendatangi rumah sakit dalam kondisi diduga berbau alkohol dan berbicara dengan nada tinggi kepada korban.
Sebelum mengakhiri hidupnya, dr. Icha sempat menghubungi spesialis toksikologi ular berbisa di Indonesia, Dr. dr. Trimaharani, untuk berkonsultasi mengenai penanganan medis pasien tersebut serta menceritakan kepanikan yang dialaminya.
"Saya yang konsultasi dengan dokter Icha saat kejadian 13 Juni. Dokter telepon saya dalam kondisi takut dan kepanikan. Telepon saya 3 dan 4 kali," ujar Maharani saat dihubungi, Senin (29/6/2026).
Korban merasa sangat tertekan karena pihak keluarga pasien, yang merupakan kerabat dari anggota dewan tersebut, memberikan perlakuan kasar yang tidak semestinya kepada tenaga medis.
"Dia cerita 'saya dibentak-bentak, dimarah-marahi dan ditanya nama lengkap saya'," tutur Maharani menceritakan kondisi dr. Icha saat itu.
Maharani kemudian memberikan saran medis agar dr. Icha memberikan penjelasan yang baik mengenai kondisi fisik pasien yang sebenarnya tidak memerlukan antibisa ular.
"Laboratorium pasien normal, fisik normal. Butuh imobilisasi saja. Bukan anti bisa ular. Dokter Icha sudah menjelaskannya, yang keluarga DPRD ini tidak mau menerima," ungkap Maharani.
Meskipun kondisi pasien tidak darurat, tekanan dari pihak keluarga terus berlanjut hingga membuat korban merasa bersalah dan ketakutan.
"'Dokter maaf ya dok, saya panik, saya dibentak-bentak dimarahi' gitu cerita ke saya. Anak ini baik. Keluarga tetep ngotot minta antibisa ular itu," kata Maharani.
Pakar toksikologi tersebut kini menyatakan kesiapannya untuk membantu proses penyelidikan lebih lanjut demi menegakkan keadilan bagi mendiang korban.
"WA-nya kepada saya itu bisa sebagai bukti. Masih ada wa-nya," ujar Maharani.