Airlangga Hartarto Ungkap Dampak Konflik Geopolitik terhadap Ekonomi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan pengaruh dinamika geopolitik global terhadap stabilitas ekonomi nasional dalam keterangan tertulis di Jakarta pada Kamis, 29 Juni 2026, seperti dilansir dari Detikcom. Pemerintah menilai situasi konflik di Timur Tengah berpotensi mempengaruhi harga energi, arus investasi, hingga rantai pasok dunia, namun penyelesaian perdamaian tetap membuka peluang bagi stabilitas ekonomi global. "Perdamaian selalu membuat hasil positif terhadap global outlook, terhadap perekonomian global.
Dan yang kedua juga akan memperbaiki supply chain. Jadi dua hal itu sangat berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Tapi yang jelas perdamaian itu kontribusinya positif terhadap perekonomian," ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Ketidakpastian global saat ini membuat pasar makin sulit diprediksi sehingga investor cenderung lebih berhati-hati dalam menjaga likuiditas serta mengambil keputusan investasi, kendati kawasan Indo-Pasifik dan ASEAN dinilai tetap aman.
"Pertumbuhan ekonomi ASEAN yang masih berada di atas 4 persen serta stabilitas kawasan yang didukung negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan investor," jelas Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Kinerja positif juga ditunjukkan oleh berbagai kawasan ekonomi khusus di Indonesia melalui tingkat keterisian yang tinggi serta adanya rencana ekspansi sebagai dampak dari realignment rantai pasok global.
"Di tengah ketidakpastian global, berbagai kawasan ekonomi khusus di Indonesia juga menunjukkan kinerja positif dengan tingkat keterisian yang tinggi dan bahkan mendorong rencana ekspansi di sejumlah lokasi sebagai bagian dari realignment rantai pasok global," sambung Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Koordinasi erat antara kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat oleh pemerintah melalui langkah Bank Indonesia dalam menjaga instrumen rupiah demi mengurangi tekanan arus modal keluar.
"Kerja sama antara fiskal moneter ini sudah sangat baik. Karena kami juga secara temporer bertemu. Dan kita memonitor dana pihak ketiga yang di perbankan, kemudian penyaluran kredit, dan juga tentu likuiditas di market ini sangat diperlukan," kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Langkah strategis lain diambil melalui proses aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang beranggotakan 38 negara dengan nilai pasar sekitar US$ 64 triliun. "Keanggotaan OECD diharapkan dapat memperkuat kualitas regulasi nasional, meningkatkan kepercayaan investor, sekaligus memperluas akses Indonesia ke pasar global yang lebih besar," ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Selain OECD, perluasan kerja sama dilakukan melalui forum Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Perjanjian IEU-CEPA akan mengeliminasi tarif masuk produk Indonesia ke Eropa yang saat ini berkisar 10 hingga 20 persen, serta membuka akses ke pasar Uni Eropa yang memiliki PDB sekitar US$ 21 triliun dengan 723 juta penduduk. Guna mempertahankan momentum pertumbuhan pada Semester II-2026, pemerintah menyiapkan stimulus Rp 26,34 triliun yang dialokasikan untuk bantuan pangan Rp 18,04 triliun, program magang dan vokasi Rp 6,26 triliun, serta transportasi dan pariwisata Rp 2,04 triliun. Strategi diversifikasi pasokan energi juga diperkuat agar tidak bergantung pada satu negara, di mana saat ini impor minyak dari Timur Tengah hanya sekitar 20 persen dan alternatif pasokan telah tersedia dari wilayah seperti Afrika.
"Saat ini, ketergantungan impor minyak Indonesia dari kawasan Timur Tengah hanya sekitar 20 persen, sementara alternatif pasokan telah tersedia dari berbagai negara lain, termasuk sejumlah negara di kawasan Afrika," kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Antisipasi terhadap dampak fenomena El Nino juga dilakukan melalui peningkatan produksi pertanian dan program pompanisasi untuk menjaga ketersediaan air guna mempertahankan ketahanan pangan. "Ekonomi Indonesia dasarnya solid. Dan usahanya kuat.
Jadi resilient. Makanya kita akan terus dorong agar selain resilience, nanti bisa memakmurkan masyarakatnya," pungkas Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.