BNPB Bagikan Strategi Mitigasi Bencana Kekeringan untuk Kurangi Risiko

Share

Kekeringan menjadi salah satu konsekuensi yang kerap muncul saat suatu wilayah memasuki musim kemarau. Menanggapi hal tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membagikan sejumlah langkah mitigasi untuk meminimalkan dampak buruk dari bencana tersebut. Seperti dikutip dari Detikcom, regulasi mengenai penanganan ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana.

Berdasarkan aturan tersebut, kekeringan didefinisikan sebagai kondisi di mana ketersediaan air berada jauh di bawah volume yang dibutuhkan untuk kehidupan, pertanian, kegiatan ekonomi, serta lingkungan. Sementara itu, kekeringan di sektor pertanian secara spesifik merujuk pada menyusutnya pasokan air di lahan yang tengah ditanami komoditas budidaya seperti padi, jagung, hingga kedelai. Melalui laman resminya, BNPB merinci panduan mitigasi yang terbagi dalam tiga fase utama.

Fase pra-bencana berfokus pada tindakan pencegahan guna menekan potensi dampak buruk. Masyarakat diimbau untuk aktif menanam pohon serta sayuran, melakukan pemanenan air hujan, dan membuat sumur resapan.

Selain itu, menjaga kelestarian kawasan tangkapan air seperti danau, sungai, mata air, dan kolam juga menjadi prioritas. Langkah teknis seperti memperbaiki kebocoran pada pipa air dan menggelar simulasi evakuasi kebakaran secara berkala turut direkomendasikan.

Tindakan yang Harus Dilakukan Saat Kekeringan Melanda

Ketika wilayah sudah mulai mengalami kelangkaan air, manajemen penggunaan air menjadi kunci utama. Warga diharapkan menyimpan pasokan air di dalam wadah yang tertutup rapat, bersih, dan aman.

Prinsip efisiensi harus diterapkan dengan menghemat air dan bertindak bijak saat menyiram tanaman. Guna menjaga suhu ruangan tetap stabil, pengaturan sirkulasi udara yang lancar sangat diperlukan. Masyarakat juga dilarang keras membakar sampah serta diminta menyiagakan tas perlengkapan darurat bencana.

Upaya Penanganan Setelah Masa Kekeringan Berlalu

Setelah situasi mulai membaik, terdapat beberapa tindakan pemulihan yang tetap harus diperhatikan. Menutup sumur dan penampungan air secara rapat tetap diperlukan agar cairan tidak menguap ke udara.

Masyarakat disarankan mengonsumsi makanan padat nutrisi, buah-buahan, serta suplemen vitamin guna menjaga imunitas. Pemantauan informasi terkini mengenai kondisi cuaca harus terus dilakukan secara berkala.

Saat beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker sangat dianjurkan. Pengalokasian air untuk kebutuhan esensial seperti memasak, minum, dan sanitasi harus diatur secara ketat, termasuk membersihkan bahan pangan menggunakan wadah penampung dan bukan air mengalir.

Kesiapsiagaan BNPB Menghadapi Fenomena El Nino

Langkah mitigasi ini menjadi semakin krusial mengingat adanya proyeksi pembentukan fenomena El Nino pada pertengahan tahun 2026. Fenomena ini diprediksi mencapai puncaknya pada pengujung 2026 hingga awal tahun 2027. Kondisi atmosfer tersebut berpotensi memicu lonjakan risiko bencana hidrometeorologi kering, khususnya kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dampak lanjutannya meliputi penurunan volume air baku, hambatan pada sektor pertanian, hingga ancaman terhadap stabilitas pangan nasional.

Merespons proyeksi tersebut, BNPB mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan membangun sumur bor di zona rawan. Program pipanisasi air bersih juga dikembangkan sebagai solusi jangka panjang, di samping menyalurkan bantuan sarana kebencanaan ke daerah dan menyiapkan logistik air bersih. Untuk penanganan karhutla, lembaga ini memperkuat operasi udara, pendampingan pemda, serta koordinasi di enam provinsi prioritas rawan kebakaran. BNPB menekankan pentingnya penguatan aspek kesiapsiagaan agar insiden kabut asap lintas batas yang pernah terjadi pada tahun 2015 silam tidak terulang kembali.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author