Mengenali Karakter Orang Mudah Marah dari Ucapan Sehari Hari

Share

Sikap pemarah sering kali dinilai sebagai tanda bahwa seseorang kesulitan dalam mengendalikan diri. Padahal, merasakan kemarahan merupakan hal yang wajar bagi setiap manusia.

Hal yang membedakan adalah bagaimana cara seseorang mengekspresikan emosi tersebut, apakah diluapkan secara sehat atau justru menyakiti orang lain. Seperti dilansir dari HaiBunda, kebiasaan mengucapkan kalimat tertentu secara terus-menerus dapat menjadi indikasi adanya emosi yang belum diselesaikan dengan baik.

Ada beberapa cara untuk mengenali individu dengan tingkat kemarahan berlebihan melalui obrolan yang sering mereka lontarkan sehari-hari menurut situs Your Tango.

1. "Saya tidak ingin melanjutkan lagi"

Individu yang kesulitan mengelola amarah cenderung mudah terbawa emosi saat menghadapi masalah. Ketika emosinya memuncak, kalimat ini kerap terucap secara spontan.

Seorang psikolog asal Amerika Serikat, Bernard Golden, PhD, mengatakan bahwa mengenali kemarahan adalah kunci untuk menghadapinya dengan bijaksana. Menurutnya, pengelolaan amarah yang sehat melibatkan tindakan berhenti sejenak dan merenungkan apa yang dipikirkan serta dirasakan.

2. "Saya tidak mau melihatmu sekarang"

Mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri sebenarnya membantu mengendalikan emosi sebelum berbicara lebih jauh. Namun, bagi orang yang sulit menahan amarah, peluapan emosi hanya melegakan untuk sesaat.

Setelah emosi mereda, perasaan tersebut kerap berubah menjadi penyesalan atau rasa malu.

3. "Jangan menguji kesabaran saya sekarang!"

Ungkapan ini menunjukkan bahwa seseorang sedang kesulitan mengendalikan amarahnya dan mudah terpancing situasi. Mereka cenderung merasa bahwa emosi yang dirasakan sepenuhnya disebabkan oleh orang lain, sehingga kalimat ini digunakan untuk menyalahkan lawan bicara.

4. "Saya hampir kehilangan kendali"

Ucapan ini bisa menjadi tanda bahwa seseorang menyadari kemarahannya. Namun, kalimat ini juga dapat terdengar seperti ancaman jika tidak diikuti dengan keinginan untuk menenangkan diri.

Cara efektif untuk meredakan situasi adalah memberikan waktu pada diri sendiri agar tubuh dan pikiran menjadi tenang. Jeda ini membantu seseorang berpikir lebih jernih sehingga tidak melampiaskan emosi ke orang lain.

5. "Kamu memang tidak pernah mengerti saya"

Kalimat ini menunjukkan rasa kecewa atau marah dalam sebuah perdebatan. Orang yang sedang emosi cenderung menganggap semua jawaban dari lawan bicara salah, sehingga membuat orang di sekitarnya memilih menjaga jarak.

6. "Kenapa hanya saya yang bisa melakukannya dengan benar?"

Pernyataan ini kerap diucapkan sebagai bentuk kekesalan terhadap orang lain. Orang yang melontarkannya merasa diri mereka lebih baik dan sulit menerima kesalahan dari sudut pandang orang lain.

7. "Saya tidak punya waktu untuk hal ini"

Kalimat ini wajar diucapkan saat sibuk, tetapi jika disampaikan dengan nada marah, lawan bicara akan merasa tidak dihargai. Dampaknya, hubungan sosial dengan orang sekitar dapat menjadi renggang.

8. "Saya tidak akan berteriak kalau kamu mau mendengarkan"

Ungkapan ini digunakan seseorang untuk membenarkan kemarahan yang sedang dirasakan, seolah-olah kesalahan sepenuhnya ada pada orang lain.

Psikolog asal Amerika Serikat, Nick Wignall, menyampaikan bahwa banyak orang sebenarnya menyimpan kemarahan mereka. Menurutnya, emosi yang terus dipendam itu akhirnya dapat meledak ketika sudah tidak mampu ditahan lagi.

"Merasa frustrasi dan marah itu wajar. Tetapi cara Anda menghadapi perasaan tersebut bisa sangat tidak sehat," jelas Wignall.

"Cara paling sehat untuk menghadapi amarah adalah dengan mengakui, memvalidasi, bertindak tegas jika perlu, atau membiarkannya saja jika tidak," lanjutnya.

9. "Bukan saya yang bermasalah, tetapi kamu"

Kemarahan terkadang muncul karena seseorang merasa tidak aman atau tidak percaya diri. Saat diminta pertanggungjawaban, mereka menolak mengakui kesalahan dan justru melimpahkannya kepada orang lain.

10. "Saya tidak mengerti mengapa harus menghadapi masalah ini lagi"

Ketika lawan bicara mencoba membahas masalah yang belum selesai, individu yang mudah marah akan langsung bersikap defensif. Mereka merasa sedang disalahkan, padahal tujuannya adalah mencari jalan keluar.

11. "Apa sesulit itu melakukannya dengan benar?"

Alih-alih mencari solusi, kalimat ini justru memojokkan lawan bicara. Orang yang mudah marah cenderung fokus pada hasil yang tidak sesuai harapan tanpa mencoba mengerti kesulitan yang dialami orang lain.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author