IHSG Sesi I 29 Juni 2026 Ditutup Melemah ke Level 5.838
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Sesi I pada Senin (29/6/2026) di teritori negatif. Dilansir dari Bloombergtechnoz, indeks terpangkas 0,97% yang membuatnya bertengger di level 5.838.
Pergerakan indeks terus merosot sejak pembukaan pasar. Rentang perdagangan bergerak di antara level 5.942 hingga menyentuh titik terendahnya di posisi 5.834.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi perputaran dana mencapai Rp4,02 triliun. Total saham yang diperdagangkan sebanyak 7,51 miliar lembar saham dengan frekuensi transaksi mencapai 683 ribu kali.
Sektor keuangan, infrastruktur, dan barang baku menjadi motor utama penurunan setelah masing-masing merosot 1,58%, 1,23%, dan 0,86%. Sektor konsumen non-primer serta energi turut tertekan dengan pelemahan masing-masing 0,36% dan 0,18%.
Kejatuhan sektor keuangan didorong oleh anjloknya saham PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) sebesar 5,91% dan PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) yang turun 4,22%. Selain itu, saham PT BFI Finance Tbk (BFIN) juga melemah sebesar 2,61%.
Di sektor infrastruktur, saham PT First Media Tbk (KBLV) merosot tajam hingga 10,6%, diikuti PT LinkNet Tbk (LINK) yang terpangkas 5,9%. Saham BUMN perhotelan dan jalan tol seperti PT Jasa Marga Tbk (JSMR) juga berkurang sebesar 3,1%.
Kondisi serupa menimpa indeks likuiditas tinggi LQ45 yang kehilangan 1,18% ke posisi 576,85. Penurunan indeks blue chip ini diseret oleh saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) yang jatuh 6,45%, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) sebesar 3,42%, dan PT XLSmart Tbk (EXCL) sebesar 2,82%.
Performa bursa di kawasan Asia terpantau bergerak bervariasi pada siang hari ini. Indeks KOSDAQ, Hang Seng, SETI, TW Weighted, Straits Times, PSEi, dan SENSEX berhasil bertahan di zona hijau.
Sebaliknya, indeks Shenzhen Comp., NIKKEI 225, Ho Chi Minh Stock, KOSPI, TOPIX, KLCI, CSI 300, dan Shanghai Composite tergelincir ke zona merah.
Analisis dari Panin Sekuritas menunjukkan bahwa pelemahan pasar modal domestik dipicu oleh meningkatnya aksi hindari risiko global. Kondisi tersebut terjadi imbas kembali memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pasca sejumlah serangan.
Investor domestik juga memilih bersikap wait-and-see menjelang peluncuran indikator ekonomi makro nasional minggu ini. Data yang dinantikan mencakup indeks PMI manufaktur, tingkat inflasi, hingga laporan perdagangan internasional.
Faktor lain yang memberatkan pergerakan pasar adalah aksi jual bersih investor asing pasca penyesuaian bobot MSCI. Kebijakan makroekonomi dalam negeri yang belum pasti serta rencana penarikan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah sebesar Rp300 triliun dari bank-bank Himbara ikut menambah tekanan.
"Sentimen tersebut mengesampingkan kinerja keuangan perbankan yang tetap solid, sehingga investor cenderung mempertahankan sikap hati-hati terhadap sektor perbankan," mengutip riset terbaru Panin Sekuritas.
Sementara itu, riset dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia turut menyoroti penantian pasar terhadap rilis data makroekonomi teranyar. Lembaga tersebut menyarankan pelaku pasar untuk fokus pada portofolio saham pilihan yang memiliki basis fundamental kuat, valuasi menarik, serta menunjukkan sinyal pembalikan arah.
"Gunakan manajemen resiko dengan disiplin," tegas riset Mirae Asset.