Warga Sumberharjo Sleman Larang Aktivitas Pembuatan Konten di Kampung Mati
Warga Padukuhan Nglepen dan sebagian Sengir, Kelurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman memasang papan larangan bagi pembuat konten media sosial di kawasan kampung mati eks gempa 2006 karena dinilai meresahkan, seperti dilansir dari Detik Travel pada Sabtu (27/6/2026).
Kawasan permukiman yang telah ditinggalkan sejak diguncang gempa bumi 20 tahun silam tersebut kini telah berubah menjadi hutan rimbun yang lebat dan dianggap wingit oleh masyarakat sekitar.
Pemasangan papan tripleks bertuliskan larangan tersebut dilakukan di tepi jalan setapak menuju dukuh karena aktivitas pembuatan konten sering dilakukan pada malam hari.
Mantan warga asli Nglepen yang kini menetap di desa wisata Rumah Domes memberikan kesaksian mengenai kondisi terkini hutan padat tersebut.
"Sudah jadi hutan. Kayunya memang tidak besar tetapi rapat," kata warga asli Nglepen, Rubingan.
Aktivitas para pembuat konten dari luar daerah tersebut diakui sering terjadi pada waktu larut malam.
"Yang kadang sering ada yang datang malam-malam buat konten. Ya sering," dia menambahkan.
Saat ini area pemukiman lama tersebut sudah tidak dikelola lagi dan warga hanya berkunjung untuk mengumpulkan pakan ternak.
"Ya paling cari rumput pakan ternak. Ya tidak dikelola lagi, cuma jadi hutan," kata Rubingan.
Tanah di kawasan tersebut juga dilarang untuk ditanami komoditas pertanian karena kondisi geografisnya yang rawan ambles.
"Iya sertifikat. Nggak ada ingin ke sana lagi ya kan sudah tidak diizinkan lagi, sebagian sudah ambles," kata Rubingan.
Warga senior lain juga membenarkan bahwa lokasi eks pemukiman di tengah bukit itu kini memiliki atmosfer yang berbeda.
"Kados gumuk, sakniki kaya papan (tempat) wingit. Ya kadang mriku (kadang ke sana)," ujar warga lainnya, Samijo.
Kedatangan orang asing untuk mendokumentasikan tempat tersebut sering kali tidak diketahui secara pasti tujuannya oleh masyarakat setempat.
"Nggih, sering ada orang ke sana tapi warga sendiri malah pada tidak tahu," ujar Samijo.
Kawasan yang terletak sekitar 17 kilometer ke arah timur dari Kota Jogja ini luluh lantak akibat gempa bumi dahsyat pada 27 Mei 2006.
"Nggih dados alas, pun mboten dinggeni (ya sudah jadi hutan karena sudah tidak dihuni)," kata warga Dukuh Nglepen, Lasiyem.
Ia mengisahkan kepanikan saat bencana melanda di mana seluruh warga satu RT berhasil menyelamatkan diri ke luar rumah tanpa ada korban luka.
"Ya lari keluar semua. Alhamdulillah tidak ada yang luka, satu RT Nglepen juga tidak ada korban karena lari keluar rumah," ujar Lasiyem.
Meskipun selamat, kerusakan struktural yang masif dan fenomena tanah ambles memaksa 50 warga Nglepen direlokasi ke kompleks rumah dome sejak tahun 2009.
"Lemahe niku ambles, temboke pedot-pedot (tanahnya ambles dan tembok rumah putus). Setelah itu tinggal di tenda dan 2009 dipindah ke sini (rumah dome/ Teletubbies)," kata Lasiyem.
Larangan untuk bertempat tinggal kembali di lokasi lama tetap diberlakukan secara ketat demi keselamatan mantan penduduk.
"Sudah jadi hutan ditutup kayu dan pohon, tidak lagi di sana, tidak boleh dihuni lagi. Ya ke sana cuma kadang cari pakan," kata Lasiyem.