Harga Emas Antam Turun Rp 15.000 Menjadi Rp 2.645.000 Per Gram pada 29 Juni 2026

Share

Harga emas Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mengalami penurunan pada perdagangan awal pekan.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, emas Antam dibanderol Rp 2.645.000 per gram pada Senin (29/6/2026). Nilai tersebut menunjukkan penurunan sebesar Rp 15.000 dari posisi hari sebelumnya.

Sementara itu, harga pembelian kembali atau buyback oleh Antam ditetapkan sebesar Rp 2.360.000. Angka ini berkurang Rp 18.000 dibandingkan dengan hari kemarin.

Penurunan harga emas di pasar domestik sejalan dengan kondisi pasar global yang melemah pada pagi ini.

Harga emas dunia di pasar spot berada di level US$ 4.058,1 per troy ons pada pukul 08:19 WIB. Nilai komoditas ini terdepresiasi sebesar 0,71% dari posisi penutupan pekan lalu.

Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama yang menekan pergerakan harga emas global.

Emas merupakan aset yang diperdagangkan dalam mata uang greenback. Saat nilai tukar dolar AS menguat, emas menjadi lebih mahal bagi investor luar negeri sehingga daya tariknya menurun.

Pada pekan lalu, Dollar Index yang mengukur posisi dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia mencatatkan penguatan sebesar 0,51%.

Kebijakan Hawkish The Fed dan Sentimen Pasar

Apresiasi dolar AS didorong oleh pernyataan ketat dari bank sentral Federal Reserve.

Gubernur Kevin Warsh dalam rapat Komite Pengambil Kebijakan (FOMC) bulan ini menegaskan komitmen institusinya untuk menjaga stabilitas harga dan membawa inflasi menuju target 2%.

Data dot plot terbaru menunjukkan bahwa mayoritas anggota FOMC memproyeksikan adanya kenaikan suku bunga acuan sebanyak satu hingga dua kali pada tahun ini.

Kondisi ini memicu reaksi dari pelaku pasar dalam mengelola portofolio investasi mereka.

“Saat situasi pasar sedang dalam tekanan, investor kerap kali menjual apa yang bisa dijual, bukan apa yang mereka mau jual. Emas sudah menjadi pemenang dalam setahun terakhir, sehingga bisa menjadi sumber dana ketika dibutuhkan,” kata Charu Chanana, Chief Investment Strategist di Saxo Markets, seperti diberitakan Bloomberg News.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author