Gubernur The Fed Richmond Peringatkan Risiko Inflasi AS Masih Tinggi
Gubernur Federal Reserve wilayah Richmond, Tom Barkin, memperingatkan bahwa tingkat inflasi Amerika Serikat saat ini masih terlampau tinggi pada wawancara hari Minggu (28/6) di sela-sela acara Aspen Ideas Festival, Colorado, dilansir dari Bloombergtechnoz. Sinyal awal mengenai meredanya tekanan harga dalam waktu dekat mulai terlihat, meskipun indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Mei melonjak 4,1 persen secara tahunan yang dipicu perluasan tekanan ekonomi dan perang di Iran. "Angka-angka itu terlalu tinggi," ujar Barkin.
Pejabat bank sentral masih mencermati perkembangan ekonomi karena sulit memastikan inflasi kembali ke target 2 persen tanpa pengaruh lanjutan dari suku bunga acuan maupun pasar tenaga kerja.
"Sulit untuk yakin bahwa inflasi akan kembali menuju target 2% tanpa adanya pengaruh lebih lanjut dari tingkat suku bunga acuan, pasar tenaga kerja, atau faktor lain yang dapat mendorong disimplasi," tambah Barkin. Penurunan harga bensin di distriknya dipicu oleh merosotnya harga minyak mentah pascagencatan senjata AS dan Iran, meski pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan tetap menjadi faktor pemicu inflasi lainnya.
Kekhawatiran para pembuat kebijakan juga tertuju pada lonjakan harga sektor jasa serta potensi berubahnya ekspektasi inflasi di tingkat konsumen karena inflasi bertahan di atas target selama lebih dari lima tahun. Di sisi lain, tarif dagang dan guncangan harga minyak dunia diprediksi mulai berkurang, namun minat belanja masyarakat Amerika yang tetap kuat berisiko menghambat pencapaian target stabilitas harga.
Kecemasan juga muncul dari perilaku para pelaku usaha yang mulai memasukkan faktor kondisi ekonomi saat ini ke dalam penentuan harga produk mereka. "Perusahaan-perusahaan, ketika mereka menetapkan harga produk, ikut memasukkan faktor inflasi saat ini. Oleh karena itu, saya menilai ada persistensi pada inflasi," tutur Barkin. Langkah penerapan kebijakan yang sedikit restriktif dinilai masuk akal karena korporasi menghadapi kenaikan biaya input operasional di tengah mulai adanya penolakan kenaikan harga oleh konsumen.
"Saya mengkhawatirkan hal tersebut, dan itulah mengapa saya pikir menerapkan kebijakan yang sedikit restriktif adalah langkah yang masuk akal," pungkas Barkin.
Melalui kunjungan kerja ke wilayah barat Virginia, para pemimpin perusahaan menyampaikan kepada Barkin bahwa rencana kenaikan upah karyawan yang besar kemungkinan tidak lagi diperlukan seiring meredanya harga bensin.