Astra Dorong Kemandirian Ekonomi Desa Kemiren Melalui Budaya Osing
Pelestarian adat istiadat setempat mampu berjalan beriringan dengan peningkatan taraf hidup warga. Langkah nyata ini terlihat di Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang sukses mengembangkan potensinya.
Melalui program Desa Sejahtera Astra (DSA), identitas masyarakat setempat yakni budaya Osing dikembangkan menjadi motor penggerak sektor ekonomi. Suku Osing yang mendiami wilayah tersebut hingga kini konsisten merawat kearifan lokal mereka.
Keseharian masyarakat di sana masih diwarnai ragam tradisi kuno. Beberapa di antaranya meliputi Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Tari Gandrung, kuliner khas, musik tradisional, hingga arsitektur rumah adat.
Dikutip dari Detik Travel, Head of Corporate Communications Astra Windy Riswantyo menjelaskan bahwa pengembangan wilayah ini mengintegrasikan empat pilar utama. Pilar tersebut mencakup sektor kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, serta kewirausahaan.
"Program Desa Sejahtera Astra bertujuan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan, serta terciptanya desa yang mandiri dan berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat secara terintegrasi pada bidang yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan, guna menciptakan masyarakat yang produktif dan berdaya saing," ujar Windy, dalam keterangan tertulis, Minggi (28/6/2026).
Intervensi program pendampingan oleh pihak korporasi ini telah berjalan sejak tahun 2024. Cakupan program tidak sekadar menyasar sektor pariwisata, melainkan juga menyentuh pondasi sosial masyarakat pendukungnya.
Penguatan fasilitas pos pelayanan terpadu (Posyandu) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi agenda penting. Selain itu, dijalankan pula sistem tata kelola sampah, konversi limbah ternak menjadi pupuk organik, serta pembangunan reaktor biogas.
Imbas positif dari integrasi program ini mulai dirasakan secara nyata oleh warga setempat. Sepanjang kurun waktu 2024 hingga 2026, kawasan ini konsisten mendatangkan lebih dari 3.000 kunjungan pelancong setiap tahunnya.
"Pembinaan empat bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan telah menjangkau 300 masyarakat, serta memperkuat peran masyarakat lokal sebagai pelaku utama dalam menjaga warisan budaya dan menumbuhkan kesejahteraan yang berkelanjutan. Pertumbuhan sektor wisata tersebut turut membuka peluang usaha bagi masyarakat lokal melalui 50 homestay dengan 92 kamar, 40 pelaku usaha pasar lokal di antaranya usaha kuliner, kerajinan, dan kopi," kata Windy.
Tata kelola destinasi ini turut menggerakkan peran aktif dari 40 anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Kelompok ini bertanggung jawab langsung terhadap operasional wisata sekaligus menjaga eksistensi budaya.
Dampak ekonomi langsung tercermin dari melonjaknya pendapatan para anggota Pokdarwis sekitar 33 persen. Penghasilan bulanan mereka merangkak naik dari angka awal Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta.
Aspek kesehatan dioptimalkan lewat penyediaan sarana medis dasar serta pemenuhan layanan kesehatan ibu dan anak. Sementara itu, sektor pendidikan difokuskan pada pengadaan alat permainan edukatif dan pengenalan budaya sejak usia dini.
"Di sisi lain, Desa Sejahtera Astra Kemiren telah menginisiasi pembentukan kelompok sadar lingkungan dengan focus pada pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik, serta memfasilitasi pembangunan biogas di rumah-rumah warga sebagai upaya untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat," jelas Windy.
Sinergi pengelolaan yang matang mengantarkan wilayah ini meraih berbagai apresiasi bergengsi. Penghargaan yang berhasil disabet meliputi Wonderful Indonesia Impact, Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), ASEAN Tourism Award 2025, serta The Best Tourism Village Upgrade Program 2025.
"Dengan pendampingan yang berkelanjutan, Desa Sejahtera Astra Kemiren ke depannya dirancang untuk menjadi pusat pembelajaran masyarakat, pertumbuhan ekonomi, dan pelestarian budaya," pungkasnya.