Kura-kura Tuntong Laut yang Langka Menghadapi Ancaman Kepunahan Pesisir
Keberadaan reptil unik tuntong laut kini mulai langka di habitat aslinya. Satwa bernama ilmiah Batagur borneoensis ini masuk dalam daftar 25 spesies kura-kura paling langka di dunia. Seperti dikutip dari Detik Travel, Wildlife Conservation Society dan Turtle Conservation Coalition mencatat populasi satwa ini sangat kritis.
Lembaga internasional IUCN bahkan telah menyematkan status Kritis (Critically Endangered) dalam daftar merah mereka. Pemerintah Indonesia membentengi satwa eksotis ini melalui regulasi ketat Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Langkah hukum tersebut dilakukan guna memastikan sang kura-kura tidak lenyap dari peta biodiversitas dunia.
Penyelamatan Batagur borneoensis berkaitan erat dengan menjaga keutuhan ekosistem pesisir. Hubungan antara tuntong laut dan hutan mangrove menjadi sebuah rantai kehidupan yang tidak terpisahkan.
Tuntong laut bertindak sebagai petani alami yang membantu penyebaran biji pohon Berembang (Sonneratia caseolaris). Pohon tersebut merupakan tanaman pionir pelindung kawasan pesisir. Kotoran dari reptil ini kaya akan nutrisi tinggi. Nutrisi tersebut menjadi elemen makanan utama bagi organisme kecil di sungai, seperti udang, kepiting, dan ikan kecil.
Saat organisme kecil tumbuh subur karena nutrisi dari tuntong laut, sarana pangan manusia berupa tangkapan laut yang melimpah ikut terjaga. Tanpa kehadiran mereka, keseimbangan pangan di hutan bakau akan goyah.
Perlindungan di Suaka Margasatwa Karang Gading
Di Sumatra Utara, habitat potensial Batagur borneoensis berada di bawah pengawasan ketat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatra Utara. Lokasinya terbentang di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut (SM KGLTL).
Kawasan cagar alam ini memiliki luas kurang lebih 14.827 hektar yang memayungi wilayah Deli Serdang dan Langkat. Tim konservasi rutin menggelar patroli senyap di tempat berpasir seperti Beting Selotong, Beting Tuntong, dan Pantai Sarang Elang.
Patroli dilakukan terutama saat musim bertelur tiba di bulan Desember hingga Januari. Langkah ini menjadi krusial demi menyelamatkan puluhan butir telur dari ancaman predator alami seperti babi hutan dan biawak, hingga jarahan tangan manusia.
Aksi Konservasi Eksitu Bersama Warga Lokal
Langkah penyelamatan satwa ini mencatat sejarah penting pada tahun 2017 di Desa Tapak Kuda, Kabupaten Langkat. Kala itu, warga setempat secara sukarela menyerahkan tujuh butir telur temuan mereka kepada petugas. Melalui pembuatan kolam penetasan darurat, enam tukik atau anak kura-kura berhasil menetas dalam waktu 70 hari.
Peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah perdana penyelamatan spesies ini di Sumatra Utara. Pihak BBKSDA Sumut kemudian berinovasi membangun kolam pembesaran eksitu karena tingkat keselamatan tukik kecil sangat rendah jika langsung dilepas ke alam bebas. Di tempat ini, para tukik dirawat dengan baik hingga tumbuh menjadi calon indukan yang tangguh.
Upaya gigih ini melahirkan gelombang kepedulian dari masyarakat sekitar melalui edukasi yang konsisten. Hingga awal tahun 2025, puluhan ekor tuntong laut hasil pembesaran dan serahan sukarela warga telah berhasil dilepasliarkan kembali ke rumah aslinya.
Saat ini, puluhan individu lain tengah dipersiapkan di kolam pembesaran untuk menyusul dilepaskan ke alam liar. Keberadaan satwa mungil penjaga ekosistem pesisir ini sepenuhnya bergantung pada komitmen untuk menjaga rumah mereka tetap aman, bersih, dan lestari.