Abel Cantika Bagikan Kisah Hadapi Hiperlaktasi Saat Menyusui Anak Kedua
Menjalani peran sebagai ibu menyusui menghadirkan perjuangan tersendiri bagi setiap perempuan. Pengalaman berharga ini turut dirasakan oleh influencer Abel Cantika saat membesarkan anak keduanya.
Dilansir dari Detik Hot, Abel Cantika menceritakan fase tersulit yang ia lalui selama proses laktasi tersebut.
"Waktu anak kedua lahir, saya pikir semuanya akan lebih gampang karena sudah punya pengalaman. Ternyata praktiknya jauh lebih sulit," ujar Abel dalam peluncuran Momcozy Air 1 di Jakarta Convention Center (JCC), kemarin.
Abel mengaku telah menyiapkan aspek mental hingga perlengkapan pendukung seperti krim puting dan pompa ASI sejak masa kehamilan. Namun, kesiapan teori tersebut rupanya belum cukup menghadapi tantangan nyata pascamelahirkan.
Kondisi produksi ASI berlebih atau oversupply membuat Abel mengalami pembengkakan payudara dan puting lecet parah pada bulan pertama. Hal ini mengubah setiap sesi menyusui menjadi momen yang sangat menyakitkan.
"Setiap sesi menyusui rasanya seperti harus menyiapkan diri menahan sakit. Tapi di sisi lain, bayi tetap harus minum," katanya.
Ia juga menyoroti sudut pandang keliru di masyarakat yang menganggap bahwa freezer yang penuh dengan stok ASI merupakan tolok ukur keberhasilan seorang ibu.
Kondisi hiperlaktasi atau produksi ASI yang terlalu melimpah justru memicu ketidaknyamanan fisik yang serius bagi ibu, termasuk risiko sumbatan aliran ASI.
Pengalaman tersebut menyadarkan Abel bahwa kenyamanan menjadi kunci utama kelancaran produksi ASI. Faktor pemilihan perangkat pompa ASI yang tepat dinilai krusial, terlebih bagi ibu yang memiliki mobilitas tinggi.
Sebagai ibu yang aktif bekerja dan memproduksi konten kreatif, Abel memerlukan perangkat memompa yang ringan, tidak bising, nyaman, serta adaptif dengan aktivitas harian.
"Tidak harus hisapannya sakit untuk bisa efektif. Saat ibu nyaman, ASI biasanya keluar lebih lancar," katanya.
Tantangan Edukasi Teknik Menyusui
Persoalan serupa turut disoroti oleh konselor menyusui, Desyntia Inten Dwi Lestari, yang menyebut kasus puting lecet atau payudara bengkak dialami oleh sekitar 98 persen ibu menyusui.
"Masalahnya bukan semata-mata produksi ASI, tetapi kurangnya edukasi tentang teknik menyusui dan pumping yang benar," jelasnya.
Desyntia memeringatkan para ibu agar tidak menunda waktu memompa hingga payudara terasa penuh. Penundaan yang terlalu lama berisiko menyebabkan sumbatan ASI, mastitis, hingga abses yang memerlukan tindakan medis.
Merespons kendala para ibu modern, TNP Group menghadirkan Momcozy Air 1, sebuah pompa ASI wearable pintar yang dirancang untuk mendukung produktivitas tanpa mengganggu proses laktasi.
Brand Manager TNP Group, Hanindya Christiana, menjelaskan bahwa inovasi perangkat diskret ini disesuaikan dengan kebutuhan ibu masa kini yang mengemban banyak peran sekaligus.
"Banyak ibu yang harus memompa ASI di kantor, saat perjalanan, bahkan di ruang publik. Karena itu, perangkat harus ringan, senyap, dan diskret agar ibu tetap nyaman," ujarnya.