Suporter Piala Dunia Keluhkan Tradisi Uang Tip di Amerika Serikat

Share

Banyak suporter sepak bola dari berbagai negara yang sedang berkunjung ke Amerika Serikat untuk menyaksikan Piala Dunia merasa jengkel dan lelah dengan tradisi kewajiban membayar uang tip kepada pramusaji, seperti dilansir dari Detik Travel pada Minggu (28/6/2026). Para pelancong internasional terkejut dengan besarnya biaya ekstra tersebut, terutama karena upah dasar pekerja restoran di beberapa wilayah AS sangat rendah, yaitu sedikit di atas USD 2 per jam, sehingga staf sangat mengandalkan tip sebesar 20% dari total tagihan. Geoff Pryor, seorang pendukung timnas Inggris yang sedang berkeliling AS, merasa aneh ketika harus memberi uang tambahan hanya untuk sekadar membeli air mineral botolan tanpa adanya pelayanan khusus.

"Mereka mencoba meminta tip tanpa melakukan apa pun," keluh Geoff Pryor, pendukung timnas Inggris.

Meski sempat sebal karena urusan membeli air botolan, Pryor mengaku bisa memaklumi jika tip tersebut diberikan saat makan di restoran karena faktor perbedaan standar upah dengan negaranya. "Saya menghargai bahwa mereka mungkin tidak dibayar sebanyak di Inggris, tetapi secara keseluruhan pelayanannya umumnya bagus, jadi ketika pelayanannya bagus, mereka pantas mendapatkan tip yang besar," kata Geoff Pryor, pendukung timnas Inggris.

Bagi suporter asal Australia seperti Chris O'Flynn dan Robert McNamara, pengeluaran mereka sudah terkuras habis untuk membeli tiket pertandingan yang mahal, sehingga kewajiban tip kian mencekik dompet. "Saya masih agak bingung mengapa hal itu ada. Di Australia, Anda membayar tarif tetap.

Di sini orang meminta, atau mengharapkan, tip. Terkadang Anda tidak tahu berapa banyak tip yang seharusnya diberikan," kata Chris O'Flynn, suporter asal Australia.

Menurut O'Flynn, urusan kesejahteraan pekerja seharusnya menjadi beban dari pemilik tempat usaha, bukan dibebankan kepada para pelanggan. "Sebagian besar orang Australia di sini merasa: Bayar staf Anda dengan upah yang lebih baik. Seharusnya tanggung jawab bisnis, bukan pelanggan, untuk memastikan staf Anda dibayar dengan baik," lanjut Chris O'Flynn, suporter asal Australia. Keluhan serupa datang dari Maiko Asahi yang terbang dari Tokyo bersama keluarganya untuk mendukung timnas Jepang di Dallas, di mana konsep tip sama sekali tidak dikenal di negara asalnya.

"Harga tanpa tip sudah sangat mahal, dengan tip harganya menjadi terlalu mahal," kata Maiko Asahi, suporter asal Jepang.

Suporter Jepang lainnya, Akihiro, yang datang bersama putranya, juga menyayangkan tingginya biaya makan di sana yang terasa sangat menguras dompet. "Bahkan makanan termurah di restoran pun masih berharga sekitar USD 30 (Rp 535.800), dan ketika Anda menambahkan tip sekitar 13-20%, Anda akhirnya berpikir 'Aduh, saya bisa mendapatkan porsi tambahan dengan harga segitu'," kata Akihiro, suporter asal Jepang. Di sisi lain, para pelaku usaha kuliner di AS mengeluhkan turis asing yang dinilai pelit, seperti diungkapkan Chris Keller, pemilik bar sepak bola Banter di Brooklyn yang sering diserbu turis Inggris dan Eropa.

"Memang selalu begitu. Tidak ada cara untuk menghindarinya. Selalu ada kekurangan tip atau pura-pura tidak tahu," kata Chris Keller, pemilik bar Banter.

Guna menyiasati hal ini sekaligus melindungi kesejahteraan karyawannya, Keller menerapkan sistem baru bagi konsumen yang melakukan reservasi. "Ini hanya untuk melindungi staf kami," kata Chris Keller, pemilik bar Banter.

Lonjakan pengunjung juga dirasakan oleh Hurley's Restaurant & Bar di New York City, di mana pemilik bersamanya, Ann Calimano, mengonfirmasi banyak pelanggan internasional yang belum terbiasa dengan budaya lokal. "Orang Eropa tidak memberi tip seperti orang Amerika," kata Ann Calimano, pemilik bersama Hurley's Restaurant & Bar.

Calimano menceritakan pengalaman saat ada rombongan turis yang menghabiskan total tagihan hingga USD 600 namun mengosongkan kolom tip, sehingga pegawainya terpaksa memberikan penjelasan langsung secara persuasif. "Para bartender akan dengan ramah bertanya, 'Apakah pelayanannya baik?' dan mereka akan menjawab 'ya, tentu saja'," kata Ann Calimano, pemilik bersama Hurley's Restaurant & Bar. Para pekerja kemudian memberikan edukasi kepada turis asing bahwa biaya layanan di Amerika Serikat belum termasuk ke dalam harga menu.

"Lalu mereka akan menjelaskan bahwa layanan tidak termasuk, sedangkan di Eropa, layanan sudah termasuk dalam harga semuanya," lanjut Ann Calimano, pemilik bersama Hurley's Restaurant & Bar.

Kondisi berbeda terlihat di Los Angeles, California, yang menetapkan upah minimum dasar cukup tinggi sebesar USD 16,20 per jam, sehingga Joseph Pitruzelli selaku pemilik restoran Wurstküche tidak melihat perubahan drastis pada kebiasaan pemberian tip. "Kami menetapkan tip yang disarankan]serendah 10, 15, dan 20%, tetapi saya melihat beberapa tempat menyarankan 20, 25, dan 30%, yang menurut saya sangat tinggi," kata Joseph Pitruzelli, pemilik restoran Wurstküche. Pitruzelli menjelaskan bahwa restoran miliknya membagikan uang tip tersebut kepada seluruh staf restoran yang bertugas secara merata.

"Kami membagikan tip di antara semua orang dalam tim yang berkontribusi untuk menciptakan pengalaman yang luar biasa, mulai dari pencuci piring yang memastikan piring bersih hingga koki di dapur dan hingga bartender dan pelayan," kata Joseph Pitruzelli, pemilik restoran Wurstküche.

Sementara itu, Rosa Thurnher dari Independent Restaurant Coalition sekaligus pemilik El Ponce, mengakui adanya pergeseran pola konsumsi sejak suporter asing membanjiri kota, namun standar tip 20% tetap krusial. "Situasinya sangat berbeda di seluruh dunia, tetapi di AS, jumlah tip yang diharapkan di industri kami sangat unik. Di sini, 20% adalah hal yang cukup standar," kata Rosa Thurnher, pemilik El Ponce.

Thurnher menambahkan bahwa ketergantungan pada tip dipicu oleh regulasi struktur upah di AS yang sangat bervariasi antar-negara bagian, seperti di Atlanta yang upah minimum legal pelayannya hanya USD 2,13 per jam. "Dan itu terutama disebabkan oleh fakta bahwa upah minimum dan struktur upah sangat berbeda di sini," lanjut Rosa Thurnher, pemilik El Ponce.

Apabila akumulasi tip dan upah pokok tidak mencapai standar minimum negara bagian sebesar USD 7,25, barulah pemilik usaha wajib menutup kekurangannya. "Jika mereka tidak menerima tip sama sekali, mustahil untuk bertahan hidup di industri jasa," pungkas Rosa Thurnher, pemilik El Ponce.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author