Kenali Perbedaan Kolesterol HDL dan LDL Beserta Kadar Normalnya

Share

Kolesterol kerap diidentikkan sebagai pemicu utama gangguan jantung, padahal zat menyerupai lilin dan lemak ini terdapat di seluruh sel tubuh. Dilansir dari Detik Health, senyawa ini terbagi menjadi dua jenis dengan fungsi yang bertolak belakang. Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua kolesterol membawa dampak buruk.

Jenis tersebut meliputi High Density Lipoprotein (HDL) dan Low Density Lipoprotein (LDL), yang masing-masing memiliki konsekuensi tersendiri bagi kesehatan. Merujuk data dari Heart, kolesterol HDL mendapat julukan sebagai kolesterol baik. Kadar HDL yang terjaga dalam angka sehat mampu memberikan perlindungan terhadap ancaman stroke serta serangan jantung.

Senyawa HDL bekerja dengan cara mengangkut kolesterol LDL dari pembuluh darah arteri menuju hati. Di dalam organ hati, lemak tersebut akan diurai dan dibuang dari tubuh, walau HDL hanya mengangkut sebagian kecil saja.

Sebaliknya, kolesterol LDL kerap disebut sebagai kolesterol jahat. Penumpukan jenis ini berisiko memicu aterosklerosis atau penyumbatan lemak pada dinding arteri, sehingga mempersempit aliran darah. Penyempitan pembuluh darah tersebut berpotensi menaikkan risiko penyakit arteri perifer, stroke, hingga serangan jantung. Perbedaan fungsi kedua jenis lemak ini dapat digambarkan melalui sebuah perumpamaan.

"Partikel LDL itu seperti truk pengiriman. Jika jumlahnya terlalu banyak, truk-truk tersebut bisa menabrak dan menumpahkan isinya ke mana-mana. Partikel HDL adalah tim pembersih yang membawa pergi kekacauan dan membersihkan jalan," kata dokter spesialis jantung Abhayjit Singh, MD, dikutip dari laman Cleveland Clinic.

Metode mendeteksi kadar lemak di dalam tubuh hanya bisa dilakukan melalui tes darah. Langkah deteksi rutin menjadi sangat krusial mengingat kondisi kolesterol tinggi umumnya berkembang tanpa memicu gejala awal.

Menurut panduan National Health Service (NHS), petugas medis biasanya mengambil sampel darah dari area lengan memakai jarum suntik. Sampel tersebut kemudian dibawa ke laboratorium guna dianalisis lebih lanjut.

Acuan Kadar Normal Kolesterol

Berdasarkan standar dari MedlinePlus, parameter jumlah kolesterol total, LDL, serta HDL dalam darah dikelompokkan menurut rentang usia dan jenis kelamin. Bagi kelompok pria dan wanita yang berusia 19 tahun atau lebih muda, standar kesehatan yang ditetapkan adalah kolesterol total di bawah 170 mg/dL, LDL kurang dari 110 mg/dL, dan HDL di atas 45 mg/dL.

Sementara itu, pria dengan usia 20 tahun ke atas memiliki target kolesterol total di bawah 200 mg/dL serta LDL di bawah 100 mg/dL. Kadar HDL mencapai 60 mg/dL atau lebih dinyatakan sebagai kondisi terbaik, sementara di bawah 40 mg/dL termasuk kategori rendah. Pada wanita berusia 20 tahun ke atas, batas kolesterol total berada di bawah 200 mg/dL dengan LDL kurang dari 100 mg/dL.

Capaian HDL 60 mg/dL atau lebih dinilai paling ideal, sedangkan angka di bawah 50 mg/dL terhitung rendah. Pemeriksaan laboratorium juga mencakup trigliserida, yaitu bentuk lemak paling dominan yang berfungsi menyimpan cadangan energi makanan. Batas normal untuk kadar trigliserida ini berada di bawah 150 mg/dL.

Kombinasi antara tingginya trigliserida dan LDL yang dibarengi rendahnya HDL memicu risiko besar. Kondisi tersebut mempermudah terjadinya penumpukan plak lemak di arteri yang memicu stroke dan serangan jantung.

Penyebab Lonjakan Kolesterol LDL

Kasus tingginya kadar kolesterol saat ini tidak lagi didominasi oleh kelompok lanjut usia, melainkan mulai banyak menyerang generasi muda. Spesialis penyakit dalam dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menyebutkan adanya korelasi dengan perubahan kebiasaan hidup.

Gaya hidup modern memicu masyarakat mengonsumsi makanan tidak sehat. Ditambah lagi, tingginya mobilitas harian membuat banyak orang mengabaikan pentingnya olahraga fisik secara teratur.

"Pemicu kolesterol tinggi itu banyak. Bisa karena faktor genetik atau keturunan, kegemukan, pola makan yang tidak baik, hingga kurang olahraga," kata dr. Aru saat dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.

Sejumlah asupan makanan diketahui memiliki potensi besar dalam menaikkan kadar lemak darah, seperti daging merah, jeroan, dan makanan siap saji. Konsumsi deretan makanan tersebut wajib dibatasi porsinya agar tidak berlebihan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author