Mengenali Gejala Kanker Serviks dari Nyeri saat Berhubungan Seksual

Share

Rasa nyeri ketika berhubungan seksual kerap dirasakan oleh sebagian wanita dan tidak selalu menjadi indikasi gangguan kesehatan yang berat. Namun, rasa sakit yang terjadi secara terus-menerus, kian parah, atau memicu pendarahan sesudah bercinta perlu diwaspadai sebagai indikasi kanker serviks.

Kanker serviks merupakan keganasan yang muncul akibat pertumbuhan sel-sel yang tidak normal pada leher rahim. Bagian ini merupakan area terendah dari rahim yang menjadi penghubung langsung menuju vagina.

Sebagian besar pemicu kanker serviks berasal dari infeksi human papillomavirus atau HPV yang menular lewat aktivitas seksual. Dilansir dari Detik Health, imunitas tubuh umumnya dapat membasmi virus ini, tetapi pada sebagian kondisi, HPV dapat menetap bertahun-tahun hingga mengubah sel sehat menjadi kanker.

Upaya menekan risiko penularan dapat ditempuh melalui pemeriksaan rutin berupa Pap smear atau tes HPV, serta melengkapi proteksi melalui pemberian vaksin HPV.

Apabila pasien terdiagnosis kanker serviks, tindakan medis awal biasanya melibatkan operasi pengangkatan jaringan tumor. Dokter juga dapat menerapkan metode kemoterapi, terapi target, maupun radioterapi untuk membasmi sel-sel kanker secara efektif.

Pada fase awal, kanker serviks umumnya berkembang tanpa memicu tanda-tanda yang jelas. Gejala baru akan bermunculan seiring dengan pembesaran ukuran kanker di dalam tubuh.

Beberapa tanda yang patut diwaspadai meliputi pendarahan vagina di luar siklus haid atau pascamenopause, volume darah menstruasi yang lebih banyak, keputihan berair yang berbau tidak sedap, hingga rasa nyeri di panggul.

Gejala nyeri saat bercinta dapat menjadi indikasi bahwa kanker serviks telah memasuki fase yang lebih berat. Kondisi ini menandakan sel kanker telah menyebar melampaui area leher rahim.

Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Prof Dr dr Yudi Mulyana Hidayat, SpOG, Subsp Onk, menjelaskan bahwa rasa sakit yang muncul saat penetrasi terjadi karena penyebaran kanker sudah mencapai jaringan di sekitar rahim.

"Kalau ditambah lagi dengan sakit pada saat berhubungan, itu hati, hati-hati. Stadiumnya sudah bukan di mulut rahim saja, sudah keluar dari mulut rahim. Ditambah lagi kalau keluar berat dari vagina," ucapnya saat ditemui di acara konferensi pers terkait Rekeomendasi POGI untuk Vaksin HPV Bagi Perempuan Pranikah dan Pasca Melahirkan, Jakarta Pusat, Selasa (24/6/2025).

"Kalau kanker serviks yang sudah stadium (lanjut), keluar dari mulut rahim, itu berarti sudah menjalar ke vagina. Sudah menjalar pada yang disebut jaringan sekitar rahim, kalau itu disenggol, sakit," ungkapnya.

Sebaliknya, ketidaknyamanan yang dipicu oleh penetrasi yang terlalu mendalam biasanya hanya berupa rasa nyeri biasa tanpa disertai bercak darah.

"Tapi kalau misalkan penetrasi ke dalam, hanya sakit saja dong. Karena mulut rahimnya baik-baik saja kan?" imbuhnya.

"Tertekan ke dalam, dia sakit. Tapi tidak berdarah, kecuali kalau robek," sambungnya lagi.

Metode Skrining Dini Kanker Serviks

Masyarakat diimbau segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan jika mendapati keluhan nyeri yang disertai pendarahan atau keputihan abnormal. Kementerian Kesehatan RI menetapkan beberapa jenis metode deteksi dini yang bisa diakses oleh masyarakat.

1. Pemeriksaan Pap Smear

Prosedur ini dijalankan dengan mengambil sampel sel epitel pada leher rahim untuk mendeteksi keberadaan sel-sel abnormal sejak fase awal.

2. Tes HPV

Pemeriksaan ini berfokus untuk mengidentifikasi keberadaan materi genetik virus HPV pada leher rahim menggunakan sampel lendir serviks.

3. Biopsi

Apabila hasil pemeriksaan awal menunjukkan indikasi yang mencurigakan, dokter akan mengambil sampel jaringan kecil untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium.

4. Skrining dengan IVA

Inspeksi Visual Asam Asetat atau IVA dilakukan dengan mengoleskan cairan asam asetat encer ke leher rahim untuk melihat perubahan warna menjadi bercak putih dalam waktu satu menit.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author