Kapal Tanker Terkena Proyektil di Selat Hormuz Pascaserangan AS
Sejumlah kapal dilaporkan terkena proyektil di Selat Hormuz pada Sabtu, 27 Juni 2026, yang memicu otoritas angkatan laut internasional meningkatkan level ancaman keamanan pelayaran di wilayah tersebut menjadi substansial.
Eskalasi situasi ini terjadi pascaserangan udara Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah fasilitas militer Iran, sebagai bentuk pembalasan atas serangan terhadap kapal kargo pada awal pekan ini.
Kerusakan fasilitas anjungan dialami oleh sebuah kapal tanker akibat hantaman proyektil tidak dikenal di dalam selat tersebut, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz melalui laporan Operasi Perdagangan Maritim Inggris. Meskipun mengalami kerusakan material, seluruh awak kapal tanker tersebut dilaporkan selamat dari insiden.
Peningkatan status keamanan maritim kemudian dipertegas oleh lembaga keamanan terpisah demi mengantisipasi risiko lanjutan bagi kapal-kapal komersial. Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC) secara resmi menaikkan tingkat ancaman bagi pelayaran di wilayah Selat Hormuz menjadi substansial.
"substansial" kata Dinas maritim Angkatan Laut Inggris.
Sebelum insiden pada hari Sabtu, ketegangan regional telah meningkat setelah kapal kontainer bernama Ever Lovely terkena proyektil pada hari Kamis saat melintasi koridor selatan dekat Oman. Koridor tersebut merupakan rute yang direkomendasikan angkatan laut Barat setelah adanya kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran.
Serangan hari Kamis itu direspons oleh Komando Pusat AS dengan mengerahkan pesawat militer pada hari Jumat untuk menggempur lokasi penyimpanan rudal, pesawat tanpa awak (drone), serta instalasi radar pantai milik Iran. Langkah penyerangan balik ini memicu peringatan berulang dari otoritas Iran yang melarang kapal komersial melintas di luar rute transit resmi mereka.
Kendati situasi keamanan memburuk dan kapal-kapal masih menghadapi bahaya besar, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan tetap berjalan. Volume arus minyak melalui selat strategis ini sempat meningkat dan menurunkan harga minyak mentah dunia setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani perjanjian damai sementara dengan Iran pada pekan lalu, meskipun aktivitas saat ini masih jauh di bawah tingkat sebelum perang.