Fenomena El Nino Godzilla Ancam Indonesia Berpotensi Picu Lonjakan Kasus DBD
Fenomena iklim El Nino Godzilla yang melanda Samudra Pasifik diprediksi mulai memengaruhi perubahan cuaca di Indonesia sejak Juni tahun ini. Kondisi ekstrem tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi memicu kemarau panjang yang lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dilansir dari HaiBunda, El Nino Godzilla merupakan istilah untuk menggambarkan kejadian El Nino dengan intensitas ekstrem.
Fenomena ini memicu lonjakan suhu global, kekeringan panjang, gelombang panas, hingga perubahan pola hujan secara drastis. Dampak fenomena ini tidak hanya meningkatkan risiko krisis air, tetapi juga mempercepat perubahan siklus iklim. Salah satu dampak serius yang membayangi kesehatan masyarakat adalah lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
Hubungan antara El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan DBD menjadi salah satu keterkaitan iklim dan penyakit menular yang paling banyak diteliti. ENSO merupakan anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik yang lebih tinggi dari rata-rata normal.
Perubahan suhu dan curah hujan lokal akibat ENSO mempercepat perkembangan nyamuk serta replikasi virus di dalam vektor sebelum kasus meningkat. Sejumlah studi menunjukkan El Nino memengaruhi waktu dan intensitas siklus penyakit tersebut. "DBD tidak menyebar secara acak sepanjang tahun. Penyakit ini cenderung meningkat dalam siklus yang dapat dikenali, dan semakin banyak bukti menunjukkan El Nino sebagai salah satu kekuatan yang membentuk ritme tersebut," demikian isi ulasan bertajuk When the Ocean Breathes Warm: Why El Niño 2026 is a Public Health Crisis.
Karakteristik El Nino tahun ini tergolong khas karena kondisi iklim yang lebih hangat tidak lagi membatasi pergerakan nyamuk Aedes di sebagian besar wilayah tropis. Beban kasus DBD akibat fenomena ini diperkirakan meningkat sebesar 39 hingga 81,7 persen hingga tahun 2099. Iklim ekstrem ini juga diprediksi kembali terjadi pada 2027. Perlindungan terhadap serangan DBD kini menjadi semakin penting dalam ranah kesehatan publik guna melindungi masyarakat dan keluarga.
DBD bukan sekadar penyakit musiman karena dapat muncul sepanjang tahun dan menurunkan produktivitas kelompok usia kerja. Data menunjukkan sekitar 70 persen kematian akibat penyakit ini terjadi pada anak-anak dan orang dewasa berusia di atas 45 tahun. BPJS mencatat ada lebih dari 1 juta hospitalisasi berkaitan dengan DBD pada tahun 2024.
Sementara itu, data Kementerian Kesehatan RI per 14 April 2026 minggu ketiga mencatat jumlah kasus mencapai 30.465 kasus dengan angka kematian sebanyak 79 orang. Penanganan medis sejauh ini masih berfokus pada pengobatan gejala. Langkah pencegahan yang tepat untuk melindungi keluarga dapat dilakukan melalui gerakan 3M Plus dan vaksinasi Dengue.
Program 3M Plus merupakan evolusi strategi pencegahan dari pemerintah untuk memberikan perlindungan menyeluruh. Berdasarkan data Kemenkes RI, langkah pertama adalah menguras tempat penampungan air seperti bak mandi dan ember secara rutin.
Dinding wadah air juga perlu disikat agar telur nyamuk yang menempel dapat terangkat. Upaya ini bertujuan memutus siklus hidup nyamuk yang mampu bertahan di tempat kering selama enam bulan. Langkah kedua adalah menutup rapat seluruh tempat penampungan air.
Tindakan ini juga mencakup mengubur barang bekas di dalam tanah agar tidak mengotori lingkungan sekaligus mencegah potensi menjadi sarang nyamuk. Poin ketiga yaitu mendaur ulang barang bekas yang memiliki nilai ekonomis. Aktivitas ini efektif mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD di sekitar hunian.
Sementara itu, poin Plus dalam gerakan ini meliputi beberapa tindakan pencegahan tambahan. Masyarakat disarankan menggunakan obat anti nyamuk, kelambu tidur, serta memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi rumah.
Langkah plus lainnya adalah memeriksa saluran atau talang air yang tidak lancar, serta memberikan larvasida pada penampungan air yang sulit dikuras. Pakaian bekas pakai juga harus diletakkan dalam wadah tertutup, diikuti dengan kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan.
Manfaat Vaksin Dengue
Perlindungan intensif juga bisa diperoleh melalui vaksinasi Dengue. Berdasarkan informasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), seseorang dapat terinfeksi dengue lebih dari satu kali karena adanya empat serotipe virus tersebut. Infeksi kedua dan seterusnya justru berisiko menimbulkan kondisi yang lebih berat serta fatal. Vaksin Dengue dirancang untuk menurunkan risiko perawatan di rumah sakit dan mengurangi tingkat keparahan penyakit.
Vaksin ini dapat diberikan kepada anak-anak hingga usia dewasa. Penggunaannya telah direkomendasikan oleh IDAI, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dan Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI). Badan Kesehatan Dunia (WHO) turut menyarankan pemberian vaksin ini sebagai bagian dari strategi terpadu. Pengendalian penyakit harus dikombinasikan dengan kontrol vektor, penanganan kasus yang tepat, serta edukasi masyarakat.