Bakrie Capital Lepas 3,93 Miliar Saham BIPI Saat Pasar Merosot
PT Bakrie Capital melepas 3,93 miliar lembar saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) di tengah kondisi kemerosotan pasar saham pada April 2026. Aksi divestasi besar-besaran tersebut memicu penurunan tajam harga saham BIPI di lantai bursa, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz pada Jumat (22/5/2026).
Penjualan aset secara masif itu menyisakan kepemilikan Bakrie Capital sebesar 428,71 juta lembar saham atau setara 0,67 persen dari total saham BIPI yang beredar. Padahal, kendaraan investasi Keluarga Bakrie ini baru saja masuk ke perusahaan batu bara tersebut dengan nilai investasi Rp1,06 triliun pada Februari dan April 2026.
Melalui investasi bertahap sebelumnya, Bakrie Capital sempat menguasai 4,28 miliar saham BIPI atau setara 6,73 persen saham beredar dengan harga rata-rata perolehan sekitar Rp248,22 per saham. Mengutip terminal Bloomberg, pelepasan 3,39 miliar saham dilakukan sepanjang April 2026 saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi lebar hingga 29,3 persen sejak awal tahun ke level 6.113.
Penurunan indeks komposit tersebut dipicu oleh sentimen rebalancing indeks MSCI, Perang Iran, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dampak dari aksi lego saham ini membuat valuasi kepemilikan Bakrie Capital menyusut menjadi Rp72,02 miar dengan rata-rata harga perolehan turun ke level Rp221,57 per saham.
Bakrie Capital juga membukukan posisi kerugian yang belum direalisasikan atau floating loss yang signifikan mencapai Rp20,39 miliar menyusul penutupan sesi I perdagangan Jumat (22/5/2026) saat saham BIPI menyentuh level Rp174 per saham. Langkah pelepasan saham BIPI ini ternyata juga diikuti oleh sejumlah investor institusi lainnya.
PT Fersindo Nusa Jaya tercatat melepas 610,4 juta saham, Henan Putihrai Asset Management menjual 120,37 juta saham, dan PT Anargya Aset Manajemen melepas 11,01 juta saham. Akibat rentetan aksi jual tersebut, kepemilikan Fersindo di BIPI menyusut menjadi 2,58 miliar saham atau setara 4,06 persen dari total saham yang beredar.
Secara akumulatif, harga saham BIPI telah merosot sebesar 39,16 persen selama satu bulan terakhir, meskipun sempat menyentuh level tertinggi Rp318 per saham pada 25 Februari 2026. Pelemahan ini beriringan dengan kinerja keuangan BIPI sepanjang tahun 2025 yang mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 83 persen menjadi US$1,09 juta akibat pendapatan yang jeblok 58 persen secara tahunan.
Di sisi lain, BIPI belakangan mulai merambah proyek pembangkit listrik berbasis sampah melalui akuisisi saham dua anak usaha PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA). Berdasarkan keterbukaan informasi, BIPI menyepakati dua akta jual beli saham pada 6 April 2026 dengan entitas afiliasi OASA, yaitu PT Maharaksa Kapital Indonesia dan PT Indoplas Makmur Lestari.
Dalam transaksi itu, BIPI mengambil alih 20 persen kepemilikan di PT Maharaksa Energi Hijau (MEH) senilai Rp500 juta dan 20 persen kepemilikan di PT Indoplas Energi Hijau (IEH) senilai Rp20 juta. Manajemen BIPI menyatakan langkah ini merupakan bagian dari ekspansi bisnis ke sektor pengelolaan limbah dan energi baru terbarukan.
“Penandatanganan transaksi ini dilakukan sebagai bagian dari strategi Perseroan dalam penguatan portofolio investasi di sektor energi hijau yang mendukung pengembangan bisnis energi berkelanjutan,” tulis Corporate Secretary BIPI Kurniawati Budiman lewat keterangan resmi, Rabu (8/4/2026).
Langkah korporasi ini membuka peluang bagi BIPI untuk memperluas eksposur ke proyek pembangkit listrik berbasis sampah. Perusahaan kini memiliki potensi keterlibatan dalam pengembangan proyek waste to energy yang berlokasi di wilayah Tangerang Selatan.