Kisah Syahla Nabilah Mahasiswi Baru UGM Lolos SNBP Berkat Belajar Mandiri
Keinginan untuk menempuh pendidikan tinggi tanpa biaya di Universitas Gadjah Mada (UGM) kini dirasakan oleh Syahla Nabilah Junita Wibawa (19). Remaja ini berhasil mewujudkan impian tersebut di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Dikutip dari Detikcom, rasa syukur yang mendalam dirasakan Syahla karena pendapatan ayahnya sebagai pengemudi ojek online tidak menentu.
Hal ini membuatnya sangat mengandalkan program beasiswa untuk melanjutkan studi. Perjuangan untuk menembus salah satu kampus terbaik di Indonesia ini dilalui melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Proses tersebut membutuhkan konsistensi dan kerja keras yang panjang sejak awal masa SMA.
Syahla telah mempersiapkan diri dengan menjaga kestabilan nilai rapor sejak kelas 10 SMA. Langkah ini dikombinasikan dengan penyusunan strategi pemilihan program studi yang matang.
"Saya memang dari awal sudah mengincar jalur SNBP. Jadi sejak kelas 10 SMA, saya berusaha menaikkan nilai dan memikirkan strategi supaya bisa lolos," katanya. Keberhasilan ini membawanya diterima di Program Studi Teknologi Industri Pertanian (TIP) Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Pilihan ini didasari oleh minat khususnya pada sektor pangan.
Awalnya, Syahla sempat tertarik untuk mendalami ilmu gizi. Namun setelah mengukur potensi diri, ia merasa lebih cocok bergelut di bidang industri pertanian dan pengelolaan lingkungan. "Saya tertarik dengan bidang pangan dan lingkungan. Saya ingin mengembangkan sesuatu yang bermanfaat, terutama terkait pengolahan sampah dan lingkungan," katanya.
Kisah keberhasilan ini menjadi menarik karena diraih tanpa mengikuti bimbingan belajar (bimbel) berbayar. Syahla memilih mengoptimalkan buku teks sekolah dan aktif berkonsultasi dengan tenaga pendidik. "Kalau ada materi yang saya tidak paham, saya biasanya bertanya ke guru.
Jadi saya lebih berusaha memahami daripada menghafal," jelasnya. Kemandirian Syahla juga tecermin dari aktivitasnya di sekolah yang tidak ragu untuk berjualan kue kering di kantin. Usaha ini dilakoninya demi meringankan beban orang tua yang harus membiayai tiga saudaranya yang lain.
"Jadi saya mau punya penghasilan sendiri, enggak mau bergantung terlalu sama orang tua," ujarnya.
Seluruh pencapaian ini didedikasikan penuh bagi kedua orang tuanya. Motivasi terbesarnya adalah memberikan prestasi terbaik agar pengorbanan ayah dan ibunya tidak sia-sia. "Saya tidak mau mengecewakan orang tua karena perjuangan mereka sampai saya bisa berada di titik ini.
Itu yang memotivasi saya untuk terus belajar," katanya. Nurjanah, selaku sang ibu, memberikan kesaksian mengenai ketekunan putrinya tersebut. Menurutnya, kegemaran belajar Syahla sudah terlihat menonjol sejak menempuh pendidikan di sekolah dasar.
"Saya senang sekali anak saya punya semangat belajar yang tinggi dan punya cita-cita yang tinggi juga. Sebagai orang tua saya mendukung apa yang menjadi cita-cita anak saya," terangnya.