Militer Amerika Serikat Serang Markas Rudal Iran di Selat Hormuz
Militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara ke fasilitas militer Iran di sepanjang wilayah pesisir Selat Hormuz pada Jumat, 26 Juni 2026. Langkah ini diambil setelah kapal kontainer berbendera Singapura, Ever Lovely, mengalami kerusakan akibat hantaman drone satu arah milik Teheran pada hari Kamis sebelumnya, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Komando Pusat AS menyatakan pesawat tempur mereka menargetkan lokasi penyimpanan rudal, drone, serta instalasi radar pesisir. Pihak militer Washington menegaskan operasi udara tersebut merupakan langkah balasan langsung demi menjaga kelancaran jalur pelayaran internasional di kawasan energi tersebut.
Aksi saling serang ini terjadi hanya berselang satu minggu setelah kedua belah pihak menyepakati memorandum kesepahaman (MOU) gencatan senjata selama 60 hari. Perjanjian tersebut awalnya mengatur kelancaran lalu lintas kapal di Selat Hormuz serta pembicaraan program nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi atas Teheran.
Insiden di jalur laut internasional itu memicu reaksi keras dari jajaran petinggi di Gedung Putih. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan ketidakpuasannya atas tindakan sepihak yang dilakukan oleh armada militer Iran.
"Saya tidak suka fakta bahwa mereka melancarkan serangan." kata Presiden Donald Trump.
Presiden Trump menegaskan bahwa tindakan provokasi di wilayah perairan vital tersebut semestinya tidak perlu terjadi di tengah upaya diplomasi yang sedang berjalan.
"Mereka tidak seharusnya melakukan (serangan)," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Sebelum melancarkan operasi balasan lewat udara, Presiden Trump sempat enggan memberikan rincian rencana taktis kepada awak media di Washington.
"Anda akan mengetahuinya." jawab Trump.
Melalui media sosial, Presiden Trump merinci bahwa Iran melepaskan sedikitnya empat drone serang sekali jalan ke arah kapal kargo di selat tersebut, di mana salah satu drone merusak bagian dek atas kapal.
"Jelas, ini merupakan pelanggaran bodoh terhadap Perjanjian Gencatan Senjata kami," kata presiden tersebut.
Wakil Presiden Amerika Serikat juga turut menyuarakan penegasan serupa terkait komitmen Washington dalam mematuhi poin-poin memorandum kesepahaman gencatan senjata.
"Iran telah menandatangani perjanjian gencatan senjata. Kami telah mematuhinya. Jika mereka memiliki ketidaksepakatan mengenai penerapan MOU, mereka bisa menghubungi kami melalui telepon," kata Wakil Presiden JD Vance di X.
Pihak Gedung Putih memperingatkan bahwa setiap tindakan kekerasan lanjutan di wilayah pelayaran Selat Hormuz akan direspons dengan tindakan tegas.
"Namun, kekerasan akan dibalas dengan kekerasan." kata Vance.
Di sisi lain, otoritas militer Iran segera merilis pernyataan resmi menanggapi gempuran udara yang dilancarkan oleh jet tempur Amerika Serikat.
"Angkatan laut dan udara kami berhasil menangkis serangan tersebut," klaim IRGC dalam pernyataannya.
Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan bahwa mereka juga telah melancarkan serangan balasan lanjutan yang menyasar titik-titik pertahanan Washington di sekitar kawasan tersebut.
Korps tersebut juga mengatakan telah menargetkan "posisi militer AS di wilayah tersebut," lapor Press TV yang dikelola pemerintah.
Hingga saat ini, perselisihan baru terkait ketentuan tarif tol bagi kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz masih menjadi perdebatan krusial antara Washington dan Teheran.