Dua Sekuritas Rekomendasikan Beli Saham BBNI Pekan Ini
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mendapatkan rekomendasi beli saham dari dua perusahaan broker efek untuk perdagangan periode 18-22 Mei 2026. Langkah ini diambil setelah saham bank milik negara tersebut mencatatkan akumulasi beli bersih yang signifikan oleh investor asing.
Aksi borong oleh pemodal internasional menjadi pemicu utama penguatan saham BBNI belakangan ini. Nilai net buy investor asing pada saham ini menembus Rp 628,6 miar dalam kurun waktu sebulan terakhir, tepatnya sejak 15 April hingga 13 Mei 2026.
Angka pencatatan net buy asing tersebut menjadi yang tertinggi di antara saham-saham lain di bursa. Akibatnya, harga saham BBNI melonjak sebesar 3,75% dalam periode tersebut dan ditutup pada level Rp 3.870 per saham pada Rabu (13/5/2026) pekan lalu.
Dilansir dari Investor Daily, Phintraco Sekuritas menyarankan akumulasi beli untuk saham BBNI karena pergerakan harganya telah menembus indikator MA200 (breakout). Pihaknya menetapkan titik masuk pasar pada level Rp 3.800 per saham dengan target harga pertama pada level Rp 4.000 dan target harga kedua mencapai Rp 4.250.
"Stoploss di bawah 3.670," sebut Phintraco Sekuritas pada Senin (18/5/2026).
Berdasarkan data aplikasi Stockbit Sekuritas, valuasi saham BNI saat ini dinilai masih murah. Rasio price to book value (PBV) BBNI tercatat sebesar 0,89 kali dengan price earning ratio (PER) berada di angka 7,10 kali (TTM), sementara kapitalisasi pasarnya menyentuh Rp 144,34 triliun.
Di sisi lain, KB Valbury Sekuritas juga memberikan sorotan serupa untuk perdagangan Senin (18/5/2026). Broker ini memberikan rekomendasi buy on weakness dengan menyarankan area masuk pada kisaran Rp 3.830 hingga Rp 3.870 per saham, serta menetapkan target harga pada level Rp 3.900 dan batas penahan risiko pada level Rp 3.760.
Sebelum rekomendasi ini rilis, PT Bank Negara Indonesia Tbk tercatat telah merampungkan agenda korporasi berupa pembagian keuntungan kepada pemegang saham. BNI melakukan pembayaran dividen tunai tahun buku 2025 dengan total nilai Rp 13,03 triliun atau setara Rp 349,41 per saham pada 7 April 2026 lalu.