Harga CPO Bursa Malaysia Anjlok Akibat Penurunan Ekspor
Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami penurunan tajam pada Kamis (21/5/2026) akibat melemahnya permintaan ekspor dan penurunan harga minyak mentah dunia. Penurunan ini memperpanjang tren negatif pasar sawit selama dua hari berturut-turut.
Data penutupan BMD menunjukkan kontrak berjangka CPO untuk Juni 2026 merosot 112 Ringgit Malaysia menjadi 4.403 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Juli 2026 juga melemah 123 Ringgit Malaysia ke angka 4.433 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Agustus 2026 turun 125 Ringgit Malaysia menjadi 4.458 Ringgit Malaysia per ton.
Dilansir dari Tradingview, penurunan ekspor produk minyak sawit Malaysia sebesar 13,9 persen hingga 20,5 persen sepanjang periode 1–20 Mei 2026 menjadi faktor penekan utama. Selain itu, penurunan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade sebesar 0,92 persen turut memperparah koreksi harga CPO.
Di sisi lain, Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memproyeksikan harga CPO akan mampu bertahan pada kisaran RM4.400 per ton sepanjang Juni 2026. Hal tersebut dipengaruhi oleh tingginya risiko pasokan global akibat ketegangan geopolitik dan ancaman cuaca kering.
"El Niño biasanya membawa kondisi cuaca lebih kering dari normal di Asia Tenggara, mengurangi curah hujan dan kelembapan tanah yang berpotensi memengaruhi pasokan pertanian regional," ungkap MPOC dalam keterangan resminya.
Badan tersebut juga menambahkan bahwa daya saing minyak sawit di pasar global kini semakin membaik. Penguatan harga minyak kedelai di Eropa yang mencapai level tertinggi sejak November 2022 menjadikan minyak sawit sebagai pilihan komoditas yang paling kompetitif, khususnya untuk pasar India.
Berdasarkan data yang dihimpun dari The Edge Malaysia, stok minyak sawit Malaysia per April 2026 mengalami kenaikan tipis menjadi 2,31 juta ton akibat peningkatan produksi musiman. Namun, volume ekspor secara bulanan pada April tercatat turun 14,3 persen menjadi 1,30 juta ton.
Sementara itu, proyeksi jangka panjang dari Oil World memperkirakan gabungan ekspor dari Malaysia, Indonesia, dan Thailand akan turun sekitar dua juta ton pada kuartal kedua dan ketiga 2026. Penurunan ekspor Indonesia dipicu oleh pengalihan produksi untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.