Harga Tembaga Turun Setelah Sempat Menguat Akibat Isu AS-Iran

Share

Harga tembaga mengalami penurunan setelah sempat menguat bersama komoditas logam dasar lainnya akibat munculnya optimisme perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat mendorong aset-aset berisiko pada Jumat, 22 Mei 2026.

Penurunan harga logam tersebut mencapai 1,03 persen menjadi US$13.601 per ton di London Metal Exchange pada pukul 06.32 waktu London, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Pihak Iran menyatakan bahwa proposal teranyar dari Amerika Serikat berhasil memperkecil selisih pandangan di antara kedua belah pihak, sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengonfirmasi adanya sejumlah indikasi positif menuju kesepakatan.

Meski demikian, beberapa isu krusial masih menjadi ganjalan dalam perundingan tersebut, termasuk persoalan cadangan uranium milik Teheran serta sengketa terkait biaya tol di kawasan Selat Hormuz.

Pergerakan harga logam terpantau bertahan dengan baik selama konflik yang telah berlangsung hampir tiga bulan, di mana spekulasi keterbatasan pasokan tambang terus mendorong nilai tembaga di tengah tingginya permintaan sektor kecerdasan buatan, energi bersih, dan penimbunan strategis.

Penilaian terhadap komoditas ini pun dilaporkan mengalami pergeseran paradigma dari yang semula bergantung pada biaya marjinal menjadi lebih mencerminkan nilai kelangkaan barang.

"Penetapan harga tidak lagi terikat pada biaya marjinal, tetapi semakin mencerminkan nilai kelangkaan dan keamanan pasokan," kata analis Jefferies Financial Group.

Pihak analis juga memproyeksikan tren nilai komoditas ini ke depan demi merangsang munculnya sumber pasokan baru di pasar global.

"Kami memperkirakan harga tembaga akan tinggi untuk mendorong pasokan baru," kata analis Jefferies Financial Group.

Pada perdagangan lainnya, harga aluminium tercatat naik 0,4 persen yang sekaligus menjadi kenaikan harian kelima secara berturut-turut, sedangkan komoditas seng mengalami penurunan sebesar 0,93 persen.

Sementara itu, kontrak berjangka bijih besi di Singapura dilaporkan meningkat 0,58 persen menjadi US$106,40 per ton sekaligus menghentikan tren penurunan yang sempat terjadi selama enam hari berturut-turut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author