Indonesia Siapkan Tiga Jurus Atasi Perubahan Iklim Global di FCLP
Pemerintah Indonesia menegaskan komitmen aktif dalam menanggulangi persoalan perubahan iklim pada tingkat global.
Komitmen sebagai salah satu pemimpin global dalam pelestarian hutan ini disampaikan dalam Ministerial Event Forest and Climate Leaders Partnership atau FCLP di Inggris, dikutip dari Detik Travel.
Dalam forum kehutanan dan iklim dunia tersebut, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memaparkan tiga strategi utama yang diandalkan RI untuk menghadapi tantangan perubahan iklim.
"Pertama, Indonesia mendorong pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi (high-integrity carbon market) sebagai instrumen penting untuk mengalirkan pembiayaan bagi konservasi, restorasi ekosistem, pengelolaan hutan lestari, dan penguatan peran masyarakat dalam menjaga hutan," kata Raja Juli seperti dikutip dari Antara, Jumat (26/6/2026).
Pemerintah terus memperkuat tata kelola pasar karbon lewat penyempurnaan regulasi. Langkah ini bertujuan memberikan kepastian hukum, transparansi, serta kredibilitas lingkungan pada perdagangan karbon sektor kehutanan.
"Indonesia meyakini bahwa pasar karbon yang berintegritas dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk menjembatani kebutuhan pendanaan global bagi perlindungan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan," imbuh dia.
Jurus kedua dari pemerintah adalah mengoptimalkan peran International Tropical Peatland Center atau ITPC. Platform global ini berfungsi mengembangkan ilmu pengetahuan, pertukaran wawasan, peningkatan kapasitas, dan inovasi lahan gambut tropis.
"Dengan sekitar 13 million hektare ekosistem gambut tropis, Indonesia memiliki pengalaman dan kapasitas yang signifikan dalam mengelola salah satu penyimpan karbon terbesar dunia sekaligus ekosistem penting bagi ketahanan iklim dan keanekaragaman hayati," jelas Menhut Raja Juli.
Langkah ketiga dilakukan dengan mendorong penguatan World Mangrove Center atau WMC. Pusat kolaborasi internasional ini dikembangkan untuk mendukung riset, kebijakan, serta inovasi pengelolaan kawasan mangrove.
"Sebagai negara yang memiliki sekitar 3,4 juta hektare mangrove atau sekitar 23 persen dari total mangrove dunia, Indonesia siap berbagi pengalaman dan praktik baik untuk mendukung agenda mangrove global yang lebih berdampak," tutup Menhut.
Kawasan hutan mangrove menjadi solusi berbasis alam yang efektif dalam memitigasi dampak perubahan iklim. Ekosistem ini juga mendukung konservasi keanekaragaman hayati, ketahanan pesisir, dan ekonomi kreatif masyarakat.
Pemerintah Indonesia meyakini tantangan degradasi lahan, perubahan iklim, dan hilangnya keanekaragaman hayati global hanya dapat diselesaikan melalui kemitraan internasional yang kokoh.