Kurs Rupiah 26 Juni 2026 Menguat Tipis ke Rp17.918

Share

Nilai tukar rupiah berhasil berbalik arah ke zona hijau pada penutupan perdagangan pekan ini. Mata uang Garuda mencatatkan penguatan tipis setelah sempat tertekan pada awal pembukaan pasar. Dilansir dari Bloombergtechnoz, rupiah menguat sebesar 0,04% ke level Rp17.918/US$ pada penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026).

Performa ini membaik setelah sebelumnya sempat melemah hingga 0,25% di sesi pagi. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) terpantau masih bertahan di posisi tinggi pada level 101,33. Meskipun demikian, terjadi penurunan tipis sebesar 0,1% yang memberi ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak positif.

Mayoritas mata uang di kawasan Asia turut menguat pada sore ini. Ringgit Malaysia memimpin dengan kenaikan 0,62%, diikuti oleh won Korea Selatan sebesar 0,28%, serta dolar Singapura dan yen Jepang yang sama-sama menguat 0,1%.

Di sisi lain, beberapa mata uang regional masih tertahan di zona merah. Dolar Taiwan, yuan China, yuan offshore, baht Thailand, dan dolar Hong Kong tetap melemah meski berhasil memperkecil jarak penurunan. Apresiasi rupiah pada sore hari ini ditopang oleh langkah Bank Indonesia (BI) yang kembali menggelar operasi moneter. Bank sentral melaksanakan lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada hari ini.

Penawaran yang masuk dalam lelang SRBI tersebut tercatat sebesar Rp31 triliun. Angka ini mengalami penurunan sebesar 33,94% jika dibandingkan dengan lelang pada Rabu (24/6/2026) yang mencapai Rp46,92 triliun. Nilai penyerapan dari hasil lelang tersebut juga menyusut menjadi Rp15 triliun dari posisi sebelumnya Rp18 triliun. Biaya untuk pelaksanaan operasi moneter ini dinilai relatif tinggi bagi bank sentral.

Imbal hasil atau yield rata-rata tertimbang pemenang untuk tenor 6 bulan turun ke 7,35%, sedangkan tenor 9 bulan berada di level 7,54%. Untuk tenor 12 bulan, posisinya bergerak stabil di kisaran angka 7,7%. Tingkat yield dari instrumen SRBI tersebut tercatat masih berada di atas tingkat imbal hasil yang ditawarkan pada pasar Surat Utang Negara (SUN).

Selain faktor instrumen BI, gairah di pasar surat utang domestik turut menyokong posisi rupiah. Yield obligasi negara mengalami penurunan hampir di seluruh lini tenor pada hari terakhir perdagangan pekan ini.

Imbal hasil untuk tenor 10 tahun tercatat turun 1,1 bps menjadi 7,17%. Penurunan juga terjadi pada tenor pendek 1 tahun sebesar 4,8 bps ke level 7,16%, tenor 4 tahun merosot 12,8 bps ke 7,15%, dan tenor 5 tahun turun 6,9 bps ke posisi 7,14%.

Aliran modal asing juga terpantau masih mengalir masuk ke pasar domestik. Berdasarkan data Bloomberg hingga 24 Juni, investor asing membukukan investasi bersih senilai US$190,8 juta di pasar obligasi secara mingguan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author