IPB University Ingatkan Bahaya Pakai Cetakan Kue Putu dari Paralon
Penggunaan pipa polyvinyl chloride atau paralon sebagai cetakan kue putu dinilai membahayakan kesehatan konsumen. Zat beracun dari komponen plastik tersebut berisiko berpindah ke dalam makanan akibat suhu tinggi saat proses pengukusan.
Pakar dari Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof Eko Hari Purnomo menjelaskan bahwa pipa paralon sebenarnya dirancang untuk mengalirkan material dalam kondisi dingin. Jenis unplasticized PVC bahkan hanya aman digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius.
Dilansir dari Detik Health, pembuatan kue putu membutuhkan uap air bersuhu 100 derajat celcius agar pati beras dapat mengental pada suhu sekitar 80 derajat celcius. Perbedaan suhu ini memicu pelepasan zat berbahaya dari cetakan plastik ke makanan.
"Suhu ini dapat mengakibatkan migrasi/perpindahan komponen plastik dari pipa paralon ke dalam kue putu. Pipa paralon umumnya dibuat dari plastik PVC terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius," ujar Prof Eko Hari Purnomo.
Paparan suhu panas tersebut berisiko melepas zat tambahan seperti stabiliser berbahan timbal yang dapat memicu kerusakan organ ginjal. Bahan pembentuk PVC juga memiliki sifat karsinogenik yang berpotensi memicu kanker.
Penggunaan alat cetak dan pengukus dari bahan bambu dinilai menjadi solusi terbaik yang lebih aman serta ramah lingkungan. Metode ini juga terbukti efektif dalam menjaga nilai budaya dari kuliner tradisional.
"Kalaupun menggunakan cetakan plastik, harus dipilih jenis yang aman untuk pangan pada suhu tinggi," kata Prof Eko Hari Purnomo.
Edukasi mengenai keamanan pangan perlu digalakkan secara masif melalui kerja sama lintas sektoral guna melindungi masyarakat dari bahaya zat kimia berbahaya.
"Masalah keamanan pangan adalah menjadi tanggung jawab dari pemerintah, produsen, dan konsumen. Terkait keamanan pangan, maka otoritas keamanan pangan (BPOM), pemerintah daerah, dan perguruan tinggi dapat mengambil peran aktif untuk mengedukasi masyarakat," tutur Prof Eko Hari Purnomo.