Pemerintah Terapkan Masa Transisi Tiga Bulan untuk BBM B50
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menerapkan masa transisi selama tiga bulan bagi seluruh badan usaha sebelum implementasi mandatori bahan bakar minyak jenis biodiesel B50 resmi dijalankan pada 1 Juli 2026, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Kebijakan penyesuaian ini diambil agar perusahaan terkait dapat menghabiskan sisa stok lama dan menyelesaikan proses pencampuran di lapangan.
"Masa transisi ditetapkan 3 bulan. Nah masa transisi itu apa? Satu, menghabiskan stok," ujar Eniya di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2026).
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa kilang yang masih memiliki sisa stok B40 diperbolehkan menghabiskannya terlebih dahulu dengan catatan spesifikasi pencampuran harus naik bertahap di atas 40 persen, di mana PT Pertamina (Persero) berjanji menghabiskan stoknya dalam dua bulan.
"Blending-nya kan ada 30 perusahaan, BU BBN (badan usaha bahan bakar nabati) yang dua itu yang paling besar alokasinya kan Pertamina dan AKR, yang lain itu sekitar 30%. Jadi, dua itu sudah memakan 70% share, tapi itu pun hanya 3 bulan makanya kita sesuaikan 3 bulan," beber Eniya.
Pihak Kementerian ESDM juga memastikan seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum akan menjual B50 secara penuh mulai 1 Oktober 2026 dengan volume penyaluran yang disesuaikan pada kemampuan masing-masing perusahaan.
"1 Oktober mulai semua titik sudah full B-50. Nah tentang volume dan sebagainya itu kita sesuaikan dengan kemampuan, kemampuan perusahaan," jelas Eniya.
Langkah tegas berupa sanksi administratif bakal disiapkan oleh pemerintah apabila terdapat badan usaha yang terbukti tidak mematuhi tenggat waktu implementasi pencampuran bahan bakar nabati tersebut.
"Terus yang penting lagi adalah bahwa jika ada perusahaan yang mungkin tidak bisa menepati atau melakukan blending nanti per 1 Januari itu akan diberikan peringatan, diberikan sanksi administratif. Nah sekarang diberikan sanksi administratif modelnya," jelas Eniya.
Rencana peluncuran jenis BBM campuran solar dengan 50 persen minyak sawit ini sebelumnya telah diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada acara Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026), sebagai langkah strategis menekan angka impor solar.
"Bulan Juli ini berapa hari lagi, kita akan launching B50. B50, Solar akan kita olah dari kelapa sawit 50%. Dengan demikian kita tidak akan impor Solar lagi dari luar negeri, saudara-saudara sekalian. Kita akan menghemat banyak sekali," kata Prabowo.