Fenomena Omega Block Picu Gelombang Panas Ekstrem di Eropa

Share

Suhu ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa memicu kekhawatiran global akibat adanya anomali sirkulasi atmosfer di langit. Seperti dilansir dari Detik Health, pemanasan global dari pembakaran bahan bakar fosil membuat intensitas gelombang panas kali ini menjadi lebih mematikan.

Faktor meteorologi utama di balik cuaca panas ekstrem ini adalah kemacetan atmosfer yang dikenal sebagai Omega Block atau Blok Omega.

"Pola sirkulasi di atas Eropa menciptakan kondisi yang setara dengan kemacetan lalu lintas di atmosfer yang memerangkap panas," jelas Samantha Burgess dari Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF).

Kondisi tersebut terjadi saat area punggung tekanan tinggi menarik udara panas dari Afrika Utara. Area tersebut kemudian terjepit di antara dua area tekanan rendah, yaitu di Eropa tengah dan di lepas pantai Portugal.

Arus jet atau jet stream juga membengkok ekstrem hingga menyerupai huruf Yunani Omega. Ketika terjebak di tengah, sistem cuaca lain terpaksa berputar melewatinya sehingga suhu di bawahnya terus melonjak tanpa henti dalam hitungan hari hingga minggu.

Efek Penyedot Debu dan Ancaman Kubah Panas

Sistem tekanan tinggi yang terjebak ini bekerja menyerupai mesin penyedot debu raksasa yang memperkuat meteorologi ekstrem seiring berjalannya waktu.

"Ini seperti penyedot debu yang menyedot panas dan massa udara panas yang naik dari Afrika Utara, lalu menyemburkannya ke utara dalam arus deras yang dahsyat," sebut Sebastien Leas, pakar meteorologi dari Météo-France.

Jika pola Blok Omega ini sangat stabil, sistem tekanan tinggi akan berkembang menjadi kubah panas atau heat dome yang bertindak seperti penutup atmosfer pada panci mendidih.

Fenomena kubah panas memicu lingkaran setan cuaca berupa kompresi udara yang memanas saat tenggelam di bawah tekanan tinggi. Kondisi ini menekan pembentukan awan, memicu cuaca tenang tanpa angin, serta langit bersih yang membuat matahari memanaskan permukaan Bumi tanpa ampun.

Pola omega berbentuk tapal kuda ini sempat diidentifikasi sebagai pendorong utama gelombang panas besar di Prancis pada Juni 2025 lalu. Bumi yang semakin panas dinilai memperparah intensitas fenomena ini.

"Ketika kubah panas terjadi, gelombang panas berikutnya menjadi jauh lebih intens daripada yang seharusnya terjadi tanpa adanya perubahan iklim," pungkas Burgess.

Dampak Gelombang Panas Terhadap Kesehatan

Paparan panas ekstrem pada tubuh manusia terbagi menjadi dua kondisi utama dengan risiko kesehatan yang berbeda.

Kelelahan Akibat Panas (Heat Exhaustion)

Kondisi ini bisa menyerang siapa saja dengan gejala pusing, sakit kepala, tubuh gemetar, dan rasa haus yang hebat. Kondisi ini umumnya tidak serius asalkan korban bisa segera mendinginkan tubuh dalam waktu 30 menit.

Serangan Panas (Heat Stroke)

Ini adalah kondisi darurat medis yang fatal ketika suhu inti tubuh melonjak melebihi 40,6 derajat celsius. Jika tidak segera ditangani, serangan panas bisa memicu kerusakan organ jangka panjang hingga kematian dengan gejala pernapasan cepat, kebingungan, kejang, hingga mual muntah.

Jurnal ilmiah The Lancet memperkirakan hampir setengah juta kematian per tahun secara global disebabkan oleh panas berlebih. Studi di 854 kota di Eropa menunjukkan perubahan iklim bertanggung jawab atas 68 persen dari sekitar 24.400 perkiraan kematian akibat panas pada tahun 2025 lalu.

Terdapat beberapa kelompok orang yang memiliki risiko jauh lebih tinggi saat cuaca panas menyengat, yaitu:

  • Bayi, anak-anak, dan lansia.
  • Orang yang harus aktif di luar ruangan, pekerja fisik, dan tunawisma.
  • Penderita penyakit bawaan seperti gangguan pernapasan, penyakit jantung, dan diabetes.
  • Ibu hamil, karena panas ekstrem berisiko memicu berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur pada bayi.

Polusi udara yang diperparah oleh asap kebakaran hutan saat kemarau juga mengintai dengan risiko peradangan serta kerusakan jaringan tubuh.

Para ahli mengungkapkan bahwa angka kematian paling banyak terjadi di awal musim panas karena tubuh manusia belum sempat beradaptasi dengan perubahan suhu yang mendadak. Warga di wilayah yang biasanya sejuk seperti sebagian Eropa menjadi jauh lebih rentan tumbang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author