Kurs Rupiah 25 Juni 2026 Ditutup Menguat ke Rp17.925 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak cukup volatil pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Meski demikian, mata uang Garuda berhasil mengakhiri perdagangan dengan ditutup menguat 0,1 persen ke level Rp17.925/US$, dilansir dari Bloomberg Technoz. Apresiasi mata uang nasional berjalan beriringan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang bergerak di zona hijau.
Ringgit Malaysia mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 0,55 persen, disusul oleh peso Filipina, rupee India, baht Thailand, won Korea Selatan, yuan China, yuan offshore, serta dolar Singapura.
Di sisi lain, hanya dolar Taiwan dan yen Jepang yang terpantau melemah pada perdagangan sore tersebut. Faktor utama penopang penguatan mata uang di Asia adalah meredanya harga minyak mentah Brent yang berada di posisi US$72,48 per barel.
Penurunan harga komoditas ini terjadi setelah aliran pasokan minyak kembali lancar dari Iran serta negara-negara produsen di kawasan Teluk. Kondisi pasar saat ini mulai dibanjiri pasokan menyusul kemajuan kesepakatan damai antara pihak Iran dan Amerika Serikat.
Sentimen internal dari masing-masing negara turut memberikan dorongan tambahan bagi penguatan mata uang regional. Ringgit Malaysia terangkat oleh lonjakan data Foreign Direct Investment (FDI) yang mencapai 41,2 persen. Sementara itu, peso Filipina mendapat sentimen positif dari reli obligasi pemerintah serta sinyal kebijakan hawkish bank sentral pada Agustus mendatang.
Bagi rupiah, apresiasi ini menjadi kekuatan tambahan untuk mempertahankan posisi agar tidak melemah lebih dalam.
Sebelumnya, pergerakan mata uang domestik sempat tertekan akibat penundaan penilaian MSCI dan penurunan peringkat daya saing Indonesia ke posisi 48 dari 70 negara. Langkah antisipasi juga telah dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) dengan memperbesar nilai kemenangan dalam lelang SRBI menjadi Rp18 triliun. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan hasil lelang pada Jumat (19/6) yang hanya mencapai Rp5,5 triliun saat rupiah menyentuh kisaran Rp17.956/US$.
Instrumen SRBI saat ini dinilai lebih memikat bagi para investor karena menawarkan tingkat imbal hasil atau yield yang kompetitif.
Yield SRBI untuk durasi 12 bulan tercatat berada di angka 7,7 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan imbal hasil surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun yang berada di level 7,16 persen.