Gelombang Panas Ekstrem Lumpuhkan Aktivitas di Eropa Barat

Share

Rekor suhu udara siang dan malam tertinggi dalam sejarah tercatat di Prancis akibat gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa Barat. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Bloombergtechnoz, fenomena alam ini dilaporkan kian memburuk hingga melumpuhkan aktivitas sekolah, sistem transportasi, serta sejumlah situs wisata internasional.

Suhu udara mencapai 44,3 derajat Celsius terpantau di wilayah Pissos, Prancis barat daya, saat gelombang panas yang telah berlangsung seminggu ini terus berlanjut. Lembaga meteorologi pemerintah, Météo-France, melaporkan bahwa rata-rata suhu harian di negara tersebut menembus rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 29,8 derajat Celsius pada hari Selasa (23/6).

Fenomena ini menyusul rekor malam terpanas dalam sejarah Prancis. Pada momen tersebut, suhu minimum saat malam hari rata-rata berada di angka 21,6 derajat Celsius.

Frekuensi dan intensitas gelombang panas di Eropa meningkat akibat perubahan iklim, menjadikannya sebagai benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Kondisi ini membebani sistem kesehatan, transportasi, dan energi. Gelombang panas kali ini terjadi bahkan sebelum suhu musim panas biasanya mencapai puncaknya pada Juli dan telah dikaitkan dengan puluhan kematian. Model cuaca jangka panjang dan analisis para meteorolog menunjukkan suhu di atas normal kemungkinan akan berlangsung selama beberapa bulan di Eropa.

Prancis menjadi pusat gelombang panas bulan ini ketika kubah panas bertekanan tinggi diperkuat oleh perubahan atmosfer yang berkaitan dengan berkembangnya fenomena El Niño. Negara itu telah mengeluarkan peringatan panas tingkat merah untuk rekor 72 departemen, sementara peringatan serupa juga diberlakukan di Inggris, Jerman, Spanyol, dan Swiss.

Panas ekstrem bergerak dari daratan Eropa menuju Inggris pada pekan ini. Inggris untuk sementara mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah bulan Juni, yakni 35,8 derajat Celsius di Wiggonholt, West Sussex, pada Rabu, menurut Met Office. Suhu diperkirakan dapat mencapai 38 derajat Celsius pada Kamis dan Jumat.

Inggris juga berpotensi mencatat rekor suhu minimum bulanan tertinggi. Hal ini berarti hawa panas akan bertahan hingga malam hari dan meningkatkan risiko kelelahan akibat panas, kata Met Office.

“Saat ini tingkat kelembapannya sangat tinggi, sehingga membuat kondisi terasa jauh lebih tidak nyaman,” kata meteorolog Met Office Inggris, Alex Burkill, dalam sebuah pengarahan.

Suhu ekstrem telah memicu gangguan luas pada sekolah dan transportasi di Inggris dan Prancis. Di Prancis, sekitar 1.800 sekolah ditutup dan 8.000 sekolah lainnya terpaksa mengubah jadwal kegiatan akibat cuaca panas, menurut Menteri Pendidikan Edouard Geffray.

Kerusakan dua transformator listrik di Brittany yang diduga dipicu panas ekstrem menyebabkan 68.000 orang mengalami pemadaman listrik. Gelombang panas juga memaksa sejumlah objek wisata utama seperti Menara Eiffel dan Museum Louvre untuk tutup lebih awal.

Di Italia, 16 dari 27 kota terbesar di negara itu, termasuk Roma, Florence, dan Milan, berada dalam status siaga merah akibat panas pada Rabu. Di sejumlah wilayah di Spanyol utara, seperti Cantabria dan Basque Country yang biasanya memiliki suhu lebih sejuk, temperatur diperkirakan mencapai 42 derajat Celsius pada Rabu, menurut badan meteorologi Aemet.

Peringatan panas tingkat oranye juga diberlakukan di sebagian besar wilayah Eropa, termasuk Belanda, di mana suhu tinggi menyebabkan keterlambatan dan pembatalan perjalanan kereta api, termasuk jalur sibuk Den Haag-Amsterdam. Layanan pengantaran makanan Thuisbezorgd (Just Eat) juga menghentikan operasional pengiriman makanan, kata juru bicara perusahaan kepada surat kabar lokal De Telegraaf.

Kondisi kekeringan dan risiko kebakaran hutan semakin memburuk di Prancis, Spanyol, dan Yunani, kata para pejabat. Tingkat kelembapan tanah di wilayah Alsace, Aquitaine, Auvergne, Limousin, dan Midi-Pyrénées mendekati level terendah yang pernah tercatat.

Pasokan listrik Eropa juga menghadapi tekanan akibat rendahnya produksi energi angin dan pembatasan operasional pembangkit listrik tenaga nuklir di Prancis karena suhu sungai yang tinggi. Kondisi tersebut membatasi kapasitas produksi listrik. Pengurangan produksi dimulai pada Senin malam di reaktor Golfech milik Electricité de France di Sungai Garonne dan diperluas pada Selasa ke unit Nogent di Sungai Seine. Pemangkasan produksi juga berpotensi terjadi di tiga lokasi lainnya.

Gelombang panas diperkirakan mulai mereda akhir pekan ini di Inggris dan Prancis. Namun, suhu yang tidak biasa hangat diperkirakan masih akan bertahan di berbagai wilayah Eropa hingga Juli, menurut model cuaca dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author