Aksi Beli Investor Dorong Penguatan Pasar Surat Utang Negara
Pasar Surat Utang Negara (SUN) mengalami penguatan pada sesi perdagangan Kamis (25/6/2026). Aktivitas beli oleh para investor memicu penurunan imbal hasil atau yield untuk mayoritas tenor obligasi.
Dikutip dari Bloomberg Technoz, pergerakan dana di pasar surat utang siang ini turut meredakan volatilitas nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.940/US$ setelah melemah pada pembukaan pagi.
Imbal hasil SUN untuk tenor acuan 10 tahun tercatat turun sebesar 5,7 basis poin (bps) menuju level 7,16%. Sementara itu, yield untuk tenor 2 tahun mengalami penurunan 5,5 bps menjadi 7,14%.
Tren penurunan imbal hasil juga melanda tenor menengah. Yield tenor 4 tahun melorot 4 bps ke posisi 7,28%, tenor 6 tahun menyusut 6,6 bps menjadi 7,2%, dan tenor 7 tahun terpangkas 4,5 bps ke level 7,2%.
Walau yield pada sejumlah tenor panjang masih merangkak naik, kurva imbal hasil siang ini mengindikasikan kembalinya minat investor di pasar obligasi pemerintah setelah sempat melemah kemarin.
Kondisi serupa terjadi pada obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS (INDON) yang mencatatkan penurunan yield. Tenor acuan 10 tahun turun 4,7 bps ke 5,37%, tenor 2 tahun turun 4,7 bps ke 4,2%, dan tenor 7 tahun turun 2,5 bps ke 5,05%.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menilai aksi beli INDON tertopang oleh sentimen positif atas pasokan minyak mentah dunia yang kembali mengalir dari Iran dan negara-negara teluk, dan membawa harga Brent kembali turun ke US$72,57 per barel.
Namun, indikator risiko investasi atau Credit Default Swap (CDS) sovereign Indonesia tenor 5 tahun terpantau masih tinggi di level 90,5.
Angka risiko investasi Indonesia tersebut terpantau masih berada di bawah sejumlah negara peers. Malaysia berada di posisi 38,5, Thailand di level 44,2, dan Filipina pada angka 66,8, tetapi tingkat risiko Indonesia masih lebih rendah dari India yang menyentuh 92,7.