Pakar Energi Dorong Pemerintah Ganti Kompor Listrik dengan Tabung CNG 3 Kg
Program masifikasi gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) melalui pengembangan tabung 3 kilogram (kg) dinilai lebih efektif menekan konsumsi gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG). Langkah ini dipandang lebih berdaya guna ketimbang program konversi kompor listrik.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, pakar energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menjelaskan bahwa Indonesia memiliki bahan baku gas alam yang melimpah untuk program tersebut. Menurutnya, pemerintah hanya perlu memproduksi tabung CNG ukuran 3 kg serta memasifkan teknologi injeksinya.
Fahmy menilai program CNG membutuhkan anggaran yang lebih minimal dibandingkan konversi kompor listrik. Karakteristik kompor listrik yang menggunakan daya tinggi membuatnya hanya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kelas menengah ke atas.
“Kemudian juga masyarakat miskin dan UMKM itu masih bisa menggunakan CNC tadi. Dia tinggal mengubah dari LPG 3 Kg ke CNG. Jika itu memungkinkan akan lebih tepat, migrasi LPG ke CNG dibandingkan menjadi kompor listrik,” kata Fahmy ketika dihubungi, Kamis (25/6/2026).
Oleh karena itu, Fahmy mendorong pemerintah untuk membatalkan rencana konversi kompor listrik pada 2027 yang diproyeksikan memakan anggaran sebesar Rp815,56 miar. Proyek tersebut dianggap sebagai pemborosan anggaran negara yang semestinya bisa dialihkan untuk program prioritas lain.
Ia juga tidak mempermasalahkan jika pemerintah harus mengimpor tabung CNG 3 kg dari China pada tahap awal. Hal yang terpenting adalah pemerintah dapat menyerap teknologi tersebut agar nantinya mampu berproduksi mandiri di dalam negeri.
“Itu hanya pemborosan besar-besaran dari APBN yang sesungguhnya bisa digunakan untuk kebutuhan yang lain. Jadi sebaiknya kompor listrik, karena pernah gagal juga, sebaiknya itu dibatalkan. Fokus saja pada konversi CNG tadi,” tegas Fahmy.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini tengah mengkaji penggunaan tabung CNG tipe 4. Tabung ini berbahan plastik atau polimer yang dilapisi komposit, carbon fiber, serta fiberglass untuk wadah CNG 3 kg.
Proses pengembangan wadah bervolume 3 kg ini diklaim memerlukan waktu tiga bulan. Setelah fase tersebut selesai, produksi massal akan digulirkan agar masyarakat dapat segera memanfaatkannya.
Kementerian ESDM memastikan pemakaian CNG tabung 3 kg untuk skala rumah tangga tidak mewajibkan penggantian kompor. Masyarakat dapat langsung menggunakan kompor LPG yang sudah ada tanpa perlu memasang alat pengonversi (converter) tambahan.
Pada tahap awal pengembangan, Kementerian ESDM berencana mendatangkan tabung CNG 3 kg tersebut dari China. Pengujian wadah gas ini dilaporkan sedang berjalan di China dan selanjutnya akan dilaksanakan di dalam negeri.
Pemerintah Siapkan Anggaran Kompor Listrik Baru
Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa program kompor listrik untuk tahun 2027 ditopang anggaran khusus senilai Rp815,56 miliar. Model dan teknologi terbaru akan diterapkan guna meningkatkan efisiensi energi dengan kualitas alat yang lebih baik.
"Sebenarnya dahulu sudah pernah mau diimplementasikan. Ada model kompor listrik yang model baru. Jadi memang makin ke sini ada teknologi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan teknologi kompor listrik yang lama," kata Bahlil saat ditemui usai Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, Senin (15/6/2026).
Kementerian ESDM saat ini mematangkan kajian komprehensif mengenai efektivitas perangkat memasak mutakhir tersebut. Pemerintah ingin memastikan bahwa peralihan teknologi ini sanggup memberikan impak positif yang nyata bagi para pengguna.
"Nah, kita juga sekarang sedang lagi melakukan penataan terhadap seberapa besar sih perbedaan positif dari kompor listrik lama dengan kompor listrik baru," tambah Bahlil.
Pada kesempatan yang sama, Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyatakan proyek ini masih dalam tahap perumusan konsep awal bersama sejumlah pihak terkait.
“Belum sejauh itu, kompor listrik itu baru mau dikonsepkan dulu. Kita masih berhitung, makanya tadi anggaran memang sudah ada indikatornya. Namun, kita baru mau diskusi dengan Bappenas, karena sekarang paralel sedang melakukan kajian untuk konversi kompor listrik,” ujar Eniya.
Terkait wilayah prioritas dan teknis distribusi, kementerian belum menetapkan regulasi final. Kendati demikian, Eniya memberikan gambaran bahwa area dengan pasokan listrik yang melimpah dan stabil akan menjadi prioritas utama.
Sebagai informasi, catatan konsumsi LPG 3 Kg pada tahun 2025 menembus angka 8,5 juta ton. Volume tersebut melampaui kuota subsidi awal dalam APBN 2025 yang dipatok sebesar 8,17 juta ton, namun masih berada di bawah kuota revisi sebesar 8,54 juta ton.