Jalan Rusak di Apokayan Malinau Hambat Rombongan Kontingen GKII
Rombongan kontingen asal Apokayan yang hendak menghadiri Konferensi Wilayah IV Gereja Kemah Injil Indonesia Kaltara terjebak di jalanan berlumpur di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, akibat kondisi infrastruktur yang rusak parah.
Sebuah rekaman video yang beredar memperlihatkan antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Kamis (25/6/2026). Seorang sopir penyuplai sembako asal Malaysia merekam keluhan mengenai hambatan logistik dan para penumpang yang kelaparan.
"Perusahaan Indon kuat tipu lah. Tengoklah anak-anak di sini sudah menangis dan menahan lapar karena seharian menunggu surutnya air. Perusahaan Indon bikin tipu-tipu masyarakat saja. Indon bikin jalan ini tidak pandai Ho, semua kendaraan nyangkut dan tidak bisa lewat," ucap pria tersebut dengan logat Melayu.
Sopir tersebut menambahkan bahwa kendaraan terpaksa menghentikan perjalanan untuk menunggu air surut di titik yang dikenal sebagai Jembatan 35. Ia juga mempertanyakan keberadaan alat berat di lokasi kejadian yang dinilai tidak melakukan tindakan perbaikan jalan.
Plt Camat Kayan Hulu sekaligus Kepala Badan Perbatasan Kabupaten Malinau, Setim Ala, memberikan konfirmasi mengenai kebenaran insiden yang menimpa warga di wilayah tersebut.
"Jalan yang masyarakat lalui selama ini sebenarnya adalah jalan trans nasional yang merupakan tanggung jawab penuh pemerintah pusat. Pemerintah Kabupaten Malinau sudah berupaya memperbaiki semampunya menggunakan alat dari kecamatan," jelas Setim.
Menurut penjelasan Setim, alat berat yang berada di lokasi merupakan bantuan dari pihak Pemkab Malinau dan bukan dialokasikan untuk penanganan jalan nasional. Hambatan kubangan lumpur dan jembatan putus membuat kontingen dari Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Selatan, dan Kayan Hilir kehabisan pembekalan yang awalnya diprediksi hanya untuk satu hari perjalanan.
"Mereka menyiapkan makanan untuk perjalanan satu hari. Ternyata di jalan ada masalah kubangan lumpur dan jembatan putus, sehingga harus menunggu air surut. Bertahan berhari-hari tanpa bekal tambahan, wajar jika ada warga yang asam lambungnya kambuh," ujar Setim.