Rupiah Anjlok ke Rp17.706 per Dolar AS Akibat Tekanan Global
Nilai tukar rupiah di pasar spot terus terpuruk hingga menyentuh rekor baru di level Rp17.706 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (19/5). Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh akumulasi memburuknya sentimen eksternal global serta meningkatnya risiko fiskal di dalam negeri.
Kondisi serupa juga terjadi pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) yang ditutup melemah ke posisi Rp17.719 per dolar AS. Menurut data Kontan.co.id, pelemahan mata uang ini mencatatkan rekor baru penutupan sepanjang kuartal kedua tahun 2026.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai kemerosotan ini tidak lagi bisa dianggap sebagai fluktuasi harian yang normal. Faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik dan tingginya harga minyak dunia membuat pasar global cenderung menghindari risiko dan memilih memegang dolar AS.
"Dari domestik, tekanan muncul karena pasar mulai menghitung risiko fiskal dari pelemahan rupiah dan lonjakan ICP (inflasi), sementara ekspektasi terhadap respons BI juga belum sepenuhnya solid," ujar Rizal.
Guna meredam volatilitas ini, mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan Bank Indonesia berpotensi menaikkan BI Rate dalam rapat moneter terdekat. Rizal memproyeksikan pergerakan kurs pada Rabu (20/5) akan berada di rentang Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS.
"Ruang penguatan masih terbatas karena tekanan tidak hanya bersumber dari faktor teknikal, tetapi juga dari persepsi risiko terkait defisit fiskal, harga minyak, kebutuhan valas korporasi, dan arah suku bunga BI," kata Rizal.
Ia menambahkan bahwa kejelasan sikap dari bank sentral akan menjadi kunci penahan sentimen negatif di pasar valuta asing. Pasar diproyeksi akan sangat mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, pergerakan indeks dolar AS, yield US Treasury, harga minyak, serta arus modal asing.
"Tanpa disiplin fiskal dan komunikasi pemerintah yang kredibel, pasar tetap akan melihat rupiah rentan. Jadi kuncinya bukan hanya intervensi BI, tetapi konsistensi bauran kebijakan fiskal dan moneter untuk menurunkan premi risiko Indonesia," kata Rizal.
Tekanan di pasar valuta asing ini ternyata melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia secara masif. Nilai indeks dolar yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia dilaporkan kembali merangkak naik 0,08 persen ke level 99,28.
Berdasarkan data pasar komparatif, won Korea memimpin pelemahan di Asia dengan kejatuhan 1,1 persen dalam sehari. Tren penurunan ini diikuti oleh baht Thailand sebesar 0,34 persen, dolar Taiwan 0,33 persen, serta dolar Singapura dan yen Jepang yang masing-masing melemah 0,21 persen.
Selanjutnya, rupee India juga terpangkas 0,18 persen, yuan China melemah 0,09 persen, dan ringgit Malaysia turun 0,06 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong dan peso Filipina menjadi mata uang yang paling bertahan dengan pelemahan tipis masing-masing sebesar 0,02 persen.